Posts Tagged ‘topic review’
BRANDED?
Saya sedang malas sekali membeli kebutuhan-kebutuhan hidup saya. Saya kehabisan sepatu, kehabisan pakaian, jilbab, kaos kaki, dan lain-lain (waktu memakan mereka semua >_<). Parahnya saya kehilangan gairah untuk berbelanja. Ya, berbelanja sendirian itu ternyata butuh kemauan ekstra untuk berangkat. Lain dengan belanja bersama teman, tidak ingin pergi-pun bisa jadi berangkat kalau sudah ada yang mengajak.
Saya juga sedang kepikiran beberapa hal terkait barang-barang yang ingin saya beli. Saya tidak pernah punya katalog di kepala saya yang memuat daftar barang-barang bermerek. Buat saya apapun mereknya, yang penting nyaman. Belakangan saya sadar, saya benar-benar tidak banyak tau merek-merek barang. Yah, siapa peduli juga? Kalau saya tidak kenal, artinya merek itu kurang keren! Hehe.
Anehnya, ada sebagian orang yang suka sekali memperhatikan merek. Seakan mereka menghargai orang dari merek yang dipakai. Saya kadang ngeri sendiri dengan tipe orang seperti ini karena rasanya mereka bisa menilai saya dari sepatu yang saya pakai atau dari tas yang saya pakai. Ini mengerikan. Seakan mereka akan membuat klasifikasi manusia berdasarkan apa yang dipakai orang tersebut dan saya tentunya akan masuk ke dalam klasifikasi kelas bawah karena saya tidak kenal barang bermerek dan lebih parah, saya tidak terlalu suka memakai barang bermerek.
Ya, saya merasa risih dengan benda-benda bermerek yang terlalu mahal. Rasanya bersalah sekali saya jika harus memakai benda-benda seperti itu. Kenapa?
- Ada benda lain yang lebih murah dengan fungsi yang sama dan model yang tidak buruk
- Sisa uangnya bisa digunakan untuk membeli keperluan yang lain atau kalau gak ada kebutuhan lain yang penting, bisa diamalkan
- Saya tidak suka dinilai dari apa yang saya pakai atau apa yang saya miliki, saya lebih suka dinilai dari apa yang saya kerjakan dan manfaat apa yang mampu saya berikan
Mungkin ini terdengar seperti pembelaan diri, tapi saya tidak mengerti kenapa merek jadi begitu penting bagi sebagian orang. Apa karena merek itu memberikan prestise dan mewakili status sosial? Ah, mulianya pemilik i-pad!
Sekali lagi harus saya katakan, hidup itu penuh dengan kegiatan memilih. Memilih merek juga termasuk. Tidak perlu saling menyalahkan atau membela diri, kita semua punya alasan masing-masing untuk mendukung pilihan kita. Yang jelas, jangan sampai berlebihan dalam berlaku karena semua akan dipertanggung jawabkan nantinya. Gak lucu juga kan kalau nanti di yaumul akhir ketika ditanya oleh malaikat “Kamu gunakan untuk apa hartamu di dunia?”. Lalu dijawab dengan “Saya gunakan harta saya untuk memberli tas Hermes, sepatu Fladeo ‘n Stuart Weitzman, dan parfum Caron’s Poivre!”
Nah. Itu berlebihan. Hehe.
“Jika saya adalah apa yang saya miliki. Maka siapakah saya ketika saya tidak memiliki apa-apa lagi?” [Oprah]
That’s Silly!
Kalangan intelektual Arab, misionaris, feminis Eropa yang berniat baik, serta pejabat pemerintah Inggris, kendati banyak berselisih pandang dalam masyarakatnya sendiri, sepakat dalam pandangan mereka mengenai apa yang dibutuhkan para Muslimah: dibebaskan dari cara hidup yang terbelakang menuju cara hidup yang maju ala Eropa. Membuang jilbab adalah langkah pertama yang penting (Esposito dan Mogahed, 2007, hal.142).
Apakah perasaan Anda sama dengan saya saat membaca tulisan itu? Saya bahkan langsung menarik highlighter (bahasa keren dari Stabilo) dan menulis besar-besar di samping paragraph tersebut: SILLY!
Hal ini sangat menyedihkan bagi saya. Orang yang bahkan tidak tahu apa-apa mau bertindak sok tahu dan sok jadi pahlawan dengan cara membebaskan Muslimah dari hal yang sebenarnya mereka bangga memakainya??! Tidak ada yang merasa butuh dibebaskan, tidak ada! Setidaknya saya tidak pernah merasa seperti itu dan sepengetahuan saya, teman Muslimah saya yang lain pun tidak ada yang merasa seperti itu! (Mohon koreksi jika saya salah, jika saya melakukan overgeneralization yang berlebihan)
Mengubah perempuan adalah perlu, kata Amin “Bapak Feminisme Arab” dalam bukunya The Liberation of Women yang terbit tahun 1899, agar masyarakat Muslim membuang cara hidup yang terbelakang dan mengikuti jejak Barat menuju keberhasilan dan peradaban. Jilbab adalah ciri kentara dari keterbelakangan.
Saya semakin geleng-geleng kepala. Tidak tahu harus berkomentar apa lagi. Disini jelas bahwa ada pihak-pihak, bahkan dari kalangan dunia muslim sendiri, yang sudah dipenuhi kebencian dan ingin dengan sepenuh jiwa dan raga mengubah tatanan masyarakat dan kedudukan sosial wanita dalam masyarakat muslim. Alih-alih mengganti sistem sosial dan norma dengan sesuatu yang lebih tinggi nilainya dari nilai Islam (jika memang ada), dia malah ingin membuat sistem nilai yang sama dengan sistem nilai masyarakat Barat. Sakit hati saya! Merendahkan sekali dia! Siapa yang mau dibawa pada status kultural yang begitu rendah? Bukankah di Barat perempuan hanyalah objek pemuas hasrat laki-laki? Bukankah di Barat daya tarik seksualitas adalah sesuatu yang sangat diagung-agungkan? Apakah kebebasan yang dimaksud adalah bebas berpakaian minim di jalan-jalan kota? Saya tidak merasa perlu melakukan hal itu untuk bisa merasa bebas dan berharga!
Saya sepakat dengan responden wanita dari Malaysia yang diwawancarai dalam survey yang dilakukan Gallup. Dia mengatakan bahwa dia mrasa kasihan terhadap perempuan-perempuan Barat karena mereka tidak menyayangi diri mereka sendiri dan merasa harus memuaskan hasrat seksual laki-laki (dengan berpakaian merangsang). Jejak pendapat lain di Timur Tengah dan Asia juga memperlihatkan bahwa mayoritas muslim di Mesir, Yordania, dan Pakistan tidak percaya bahwa dalam masyarakat Barat perempuan dihargai (Pew Global Attitudes Project, 2006). Data tersebut tidak mendukung persepsi yang terus saja banyak dipegang di Barat bahwa perempuan Muslim sudah tak sabar lagi ingin dibebaskan dari budaya mereka dan mengadopsi gaya hidup Barat (Esposito dan Mogahed, 2007, hal.144).
Aneh sekali persepsi mereka…ckckck.
Sebenarnya, anggapan bahwa status perempuan inferior dalam Islam terus dipakai sebagai pembenaran campur tangan Barat secara kultural dan kadang-kadang politik (ibid.,hal.140).
Jadi jelas bahwa itu adalah hal yang memang sengaja di blow up oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk terus melakukan intervensi kepada dunia muslim.
**
Rasanya ganjil sekali membicarakan hal ini di tempat dimana saya biasa bercerita gak karuan tentang segala hal ajaib (dan tidak terlalu serius) yang mengelilingi hidup saya. Entah kenapa saya merasa perlu berbagi tentang hal ini, setidaknya supaya saya yakin bahwa saya telah memberitahu beberapa orang bahwa banyak hal aneh di dunia ini yang kadang tidak mampu kita jangkau dengan nalar, hal aneh itu bisa saja menguntungkan tapi celakanya lebih sering merugikan. Kita tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa karena kita adalah bagian dari masyarakat dunia. Dan kita hidup di negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.
Pesan saya, untuk menutup tulisan ini: “Islam itu sederhana dan meninggikan kedudukan perempuan” (Souad Saleh, professor of Al-Ahzar University, Cairo)
Source:
Esposito, John L & Dalia Mogahed. 2007. Who Speaks for Islam?. New York: Gallup. Inc.