Posts Tagged ‘teman’
Is that really you?
Kemarin saya ditanya seorang kawan via chat FB, “Mbak itu yang lagi komen2an mesra sama Bunga (bukan nama sebenarnya) siapa ya?”
Saya terdiam, “Hehe…tanya aja langsung sama orangnya mbak” jawab saya singkat.
Saya pikir itu jawaban terbaik yang bisa saya berikan. Bukan karena saya tidak tahu jawabannya, tapi karena saya tidak mau membicarakan teman saya sendiri. Ya, saya tidak mau membicarakannya. Bukan hanya karena takut mendzaliminya, tapi juga karena saya pun masih tidak percaya bahwa itu benar-benar dia.
Lagi, saya mempertanyakan hak-hak kita di ruang public.
Hal yang berulang-ulang saya katakan: kita punya hak yang dibatasi oleh hak orang lain.
Prinsip Maturitas
Kedewasaan adalah hal yang terdengar begitu menyenangkan. Saya ingat dulu saat saya masih di usia belasan saya selalu berharap saya cepat dewasa. Dalam pandangan saya, menjadi dewasa itu membanggakan. Orang dewasa terlihat kuat, pintar, dan independen. Saya sungguh tidak tahu bahwa semua itu hanya refleksi yang saya anggap ada pada diri orang dewasa. Nyatanya tidak banyak orang dewasa yang seperti itu. Yang banyak saya temui justru orang dewasa yang perilakunya masih seperti anak-anak. Mungkin termasuk diri saya sendiri. Saya sering bertanya-tanya, apakah saya sudah bisa dikatakan dewasa? Seperti apa sebenarnya orang dewasa itu? Apakah dewasa berarti tidak pernah menangis? Atau tidak pernah nonton Spongebob? Atau jangan-jangan dewasa berarti tidak pernah makan choki-choki? Well, saya jadi merasa tidak dewasa!
Mungkin ada yang pernah dengar tentang prinsip maturitas. Menurut dr. Muadz, Sp.KJ, seseorang bisa disebut dewasa atau matang kalau :
- Berpegang pada reality principles
- Independent
- Correct and correctable
- Understand and understable
Kata sahabat saya yang belakangan ini sedang mendalami schizophrenia (emang iya? Pokoknya dia tertarik masalah ini deh!): “Pada dasarnya, setiap orang, pada saat mengalami tekanan/masalah/stress, akan mengalami regresi (kemunduran) pada satu atau beberapa sisi maturitasnya. Entah itu tiba – tiba menjadi tidak mau mengerti orang lain atau keadaan, tidak mau meluruskan kesalahan orang lain atau tidak mau disalahkan (dengan kata lain tidak mau diluruskan), atau tiba – tiba menjadi sangat bergantung pada seseorang, dan pada tingkat yang paling parah tidak lagi bisa bertahan dalam reality principles (mengalami gangguan daya nilai realitas).”
Maka apakah kita telah menjadi orang yang bisa dimengerti dan mau mengerti orang lain?
Apakah kita telah menjadi orang yang mau mengakui kesalahan jika salah dan mau diluruskan?
Dan apakah kita bisa hidup tanpa harus banyak bergantung pada orang lain? Apakah kita telah punya kepercayaan diri yang cukup untuk mengerti bahwa kita cukup mampu melakukan banyak hal tanpa harus menunggu komando orang lain?
Dan yang terpenting, apakah kita memiliki reality principle yang benar? Apakah kebenaran dan keyakinan yang kita percayai adalah kebenaran yang bisa memang benar dan bukan yang kita ada-adakan?
Jika semua jawaban atas pertanyaan di atas adalah positif, maka (Insya Allah) kita bisa dikatakan dewasa berdasarkan prinsip maturitas di atas. Jika belum, maka ya itu pilihan, apakah kita mau berproses menjadi dewasa atau tetap bertahan menjadi anak-anak dengan fisik yang tidak lagi imut!
Ya, pada akhirnya itu hanya satu teori. Saya kadang suka sekali membela diri dengan banyak alasan. Salah satu pembelaan diri saya untuk masalah yang satu ini adalah: “Manusia punya beragam dimensi. Ada dimensi biologis, psikis, intelegensi, sosial, dan sebagainya. Agaknya setiap dimensi itu tidak tumbuh secara bersamaan. Mungkin saja kita dewasa pada sisi yang satu tapi belum pada sisi yang lain. Itu tidak menjadikan kita tidak dewasa, hanya belum sepenuhnya dewasa.”
^^v
Dan karena kedewasaan adalah sebuah proses, maka bagi saya ia adalah proses yang tidak pernah berhenti.
Plegmatis…
Segala sesuatu itu selalu dicipatakan berpasangan. Bahkan untuk teman kosan pun sudah ditakdirkan siapa orangnya. Ini tentang saya dan teman sekamar saya. Kadang saya tertawa sendiri membayangkan hari-hari yang kami lewati bersama. Unik.
Saya tahu betul kepribadian teman saya ini. Dia ini tipe plegmatis – melankolis. Dua sifat yang agak kontradiktif, tapi pemenangnya selalu saja sisi plegmatisnya. Dia itu mudah berdamai dengan segala hal, itu sisi positifnya.
Sementara saya sendiri seorang melankolis – koleris. Dua hal yang agak kontradiktif juga, tapi menurutnya saya cukup bisa membuatnya seimbang.
Masalahnya adalah saya sering tidak mengerti jalan pikirannya. Dia juga sering tidak mengerti jalan pikiran saya. Jika saya berpikir semua hal harus direncanakan dan dipastikan keberhasilannya, maka teman saya ini lebih suka membuat semua seperti apa adanya, dalam bahasa saya ‘nrimo’. Bagi saya hal itu kadang menggemaskan, begitu juga bagi dia, mungkin kadang saya ini mengesalkan baginya.
Contoh kecil, teman saya ini hobi sekali menunda pekerjaan. Saya pikir saya juga suka menunda tapi ternyata dia lebih suka lagi. hehe…dia tidak suka bergerak banyak, dia lebih suka menjadi suporter. Padahal saya ingin sekali bisa bergerak bersama dia dalam mengerjakan banyak hal.
See, kepribadian kami memang berbeda sehingga outputnya juga berbeda. Untungnya kami paham kondisi satu sama lain jadi bisa saling memaklumi. Komentar yang paling sering muncul dari mulut saya adalah,
“Kamu kok begitu sih?” atau, “Kamu enggak capek terus-terusan diem?” atau, “Kok kamu sabar banget sih, kan sebenernya kamu bisa melakukan sesuatu?”
dan jawaban yang paling sering dia gunakan adalah,
“Kamu tuh yang begitu, aku nyaman kok dengan kondisi ini.” atau, “Kok kamu gak bisa diem sih?” atau, “Kupikir gak ada gunanya memperjuangkan hal yang aku tau sulit. Orang plegmatis tuh selalu berusaha menghindari konflik.”
Kalau sudah begini saya cuma bisa diam.
“Aku gak ngerti jalan pikiran orang plegmatis.”
Dia juga diam.
“Aku juga gak ngerti jalan pikiran orang koleris.”
Sekarang saya dan dia mengerti kenapa ada banyak pasangan yang cek-cok. Mungkin salah satu penyebabnya adalah perbedaan kepribadian yang tidak diiringi dengan kelapangan dada untuk menerima pasangannya apa adanya. Kami sering tertawa sendiri mengenai hal ini. Sekarang kalau saya melihat dia melakukan hal-hal yang tidak masuk akal bagi saya, saya akan langsung bergumam, “Kamu bener-bener plegmatis ya ternyata,,hee”
Dan biasanya dia akan cemberut kecil kemudian melanjutkan aktivitas plegmatis-nya.
to my roomate: gak keberatan kan ya kamu jadi artis di tulisanku selama beberapa waktu ke depan? hehe
Lotion non-Anti Nyamuk
Saya memang tidak pernah benar-benar ingin tinggal di tempat kost saya yang sekarang karena beberapa alasan. Alhasil saya selalu membawa barang seminim mungkin karena saya tahu saya pasti kembali ke rumah setiap kali ada kesempatan. Awalnya saya malah dengan brutal memasukkan tas saya beserta isinya ke dalam lemari dengan alasan ajaib bahwa hal itu memudahkan saya untuk selalu pulang ke rumah. Ya, saya jadi tidak perlu menata baju ke dalam tas lagi, tinggal ambil tasnya dan saya langsung berangkat pulang. Pragmatis sekali saya ini. Teman sekamar saya pun protes melihat tingkah saya ini dan akhirnya saya terpaksa menata baju-baju saya di lemari…
Teman saya sudah banyak protes karena kelakuan-kelakuan saya yang mungkin menurutnya agak ganjil. Saya tidak punya kotak mandi, tidak bawa handuk yang besar, tidak punya banyak baju di lemari, tidak membawa sisir, dsb. Satu lagi akibat keengganan saya berkemas dengan seksama karena tidak benar-benar ingin kos. Saya tidak membawa lotion. Saat saya membutuhkannya karena merasa udara di kamar terlalu kering, saya bertanya pada teman saya..
Saya : Pip, bawa lotion gak? Minta dong. Lupa bawa nih.
Pip : Ada tuh di tas. Autan, ambil aja.
Saya : Itu kan lotion anti nyamukkkk…gak ada lotion yang normal?
Pip : Loh itu bukan lotion ya?
Saya : Mmmm…lotion sih, tapi aku butuh yang bukan autan, bukan anti nyamuk tapi pelembab >_<
Pip : Wah, aku gak pake lotion yang begitu er. hihi…
Saya pun menelan kepahitan, mempertimbangkan apakah autan juga bisa disamakan dengan lotion lain yang tidak membunuh nyamuk.
Jangan-jangan autan lebih fungsional dibanding lotion lain karena bisa menghindarkan kita dari nyamuk. Tapi tetap saja saya ragu memberinya kedudukan yang setara dengan lotion non-anti nyamuk.
Kamu Seperti Bajing!^^
Hari Minggu, waktu liburan! Tapi bagi sebagian orang hari minggu itu belum tentu berarti liburan. Saya salah satu dari mereka. Teman-teman saya juga. Niat saya ber haha-hihi dengan teman-teman saya minggu kemarin pun kandas ketika saya tahu bahwa mereka sudah punya agenda full sampai malam.
A: JatiAsih (acara DT) – Ciracas (ngajar anak-anak kampung) – Depok (rapat hearing lembaga, *lupa juga saya!)
B: JatiAsih (acara DT) – Depok (siang sampai sore, acara lembaga internal kampus)
C: JatiAsih (acara DT) – Gak tau (nyelawat ke rumah teman tapi rumahnya blm tau dmn krn SMSnya blm dibales) – Depok (acara lembaga internal)
Saya yang gak mau kalah sibuk: JatiAsih (acara DT) – Pasar Baru (survey camcorder) – JCC (nyari FD+modem)
Teman saya tertawa miris, “Iya susah deh mau hah-hihi, hari ini loncat dari satu tempat ke tempat lain, kayak bajing! (tupai – red)”
Saya mengiyakan, dia lebih tupai dari saya!
“Jum’at nanti aku free, kita ke laut yuk atau ke gunung!” tambahnya, berusaha menghibur dirinya sendiri setelah melihat agendanya penuh coretan, dan handphonenya yang (mungkin) penuh reminder.
Saya mengiyakan. Agenda liburan seperti apa ya yang cocok untuk tupai? ^^v
SMS teman saya
Sesuai posting sebelumnya, saya mau nyalin SMS teman saya (tanpa izin, karena kalo izin pasti jadi panjang urusannya karena saya harus bujuk2 dia dulu). Pagi-pagi, dia kirim SMS yang bagus ini. Sepertinya semalam dia baru selesai bertapa ^^
Semangat Pagi!
Pikiran tentang nikah yang kita obrolin kemaren (padahal udah lama-red.) ternyata itu wajar. Kurasa itu cuma bagian dari demamnya wanita yang panik karena liat undangan kawin dari temen. Plus rasa pengen karena liat indahnya pacaran setelah menikah. Setidaknya, itu alasanku. Alasanmu bisa beda lagi. Kemarin aku sedikit berpikir keras, apa mauku dan apa yang bisa, setidaknya, meredakan demam itu. Kupikir aku harus punya target. Dimana aku siap dan gak sembarangan. Bisa memutuskan dengan matang dan punya arah yang jelas.
Kadang saat aku punya pertanyaan aku suka lupa kalo Allah itu mendengar aku. Dan aku cuma bisa meminta sama Dia. Yowes, skarang aku fokus sama target jangka pendek dulu untuk melangkah ke target jangka panjang
![]()
Mba Desi dan Teman Saya
Kemarin saya datang ke undangan walimahannya Mbak Desi dan Mas Helmi. The decoration was stunning and the bride was gorgeous! *hihi…mas helmi – gak disebut ah, saya gak kenal beliau!*
Secara sembrono saya dan teman saya makan cemilan2 unik, mulai dari sup asparagus sampai chicken [lupa] blue, yang sama sekali gak blue! Karena malas ngantri, kami ambil makanan yang berbeda-beda dan karena kami sibuk ngobrol, saya gak sadar bahwa dia nyuapin saya sup asparagus sementara saya nyuapin dia syomai! Alhasil, beberapa orang melirik ke arah kami. Berpikir bahwa kami terlalu mesra! hahaha…apakah ini yang dinamakan Public Display of Affection (PDA)? [let's talk more about this later!]
Yang membuat saya senyum-senyum adalah ucapan mba Desi. Waktu saya pamit dia memeluk saya, “Cepet nyusul ya!” ucapnya sambil tersenyum. Saya ikut tersenyum. Biasa aja sih sebenernya, tapi entah kenapa rasanya unik aja sebab (benar kata teman saya) setiap datang ke acara walimahan, biasanya kita jadi pengen juga. hihi…
Buktinya adalah SMS ini (dari teman saya yang lain – yang gak ada hubungannya dengan mba Desi).
Pikiran tentang nikah yang kita obrolin kemaren ternyata itu wajar. Kurasa itu cuma bagian dari demamnya wanita yang panik karena liat undangan kawin dari temen. Plus rasa pengen karena ngeliat indahnya pacaran setelah menikah. Setidaknya itu alasanku. Alasanmu bisa beda lagi [read more in the next post...].
4,5 tahun
“Boleh gak aku lulus 4,5 tahun?” teman saya bertanya.
Saya terhenyak, Hei ada apa ini? sementara saya mau lulus 3,5 tahun tapi dia malah mau 4,5 tahun! “Kenapa mau 4,5 tahun?” tanya saya akhirnya.
“Panjang ceritanya. Singkatnya karena aku berpikir masih banyak hal yang harus dibenahi di kampus.”
Saya dan teman saya yang lain terdiam. Menunggu penjelasan lain yang lebih menjelaskan. Dan diapun bercerita, panjang, terburu-buru namun tak mengurangi kejelasan maknanya. Seketika saya pun merasa, “Bangsa ini membutuhkan banyak orang seperti dia!”
Ya, teman saya ini berniat mengorbankan masa studinya karena dia punya visi. Punya cita-cita. “Aku mau meninggalkan kampus dengan tenang!” begitu katanya. Dengan tenang karena telah berbuat sesuatu yang baik dan membaikkan bagi kampusnya. Bukan hal mudah. Ya, mengubah sistem memang tidak pernah mudah.
Selama ini dia berkecimpung dalam dunia perpolitikan kampus. Teman saya ini memang mengambil peran yang cukup signifikan dalam ranah perpolitikan kampusnya. Menurutnya selama beberapa tahun belakangan ini mahasiswa sangat tidak solid menghadapi beragam ketidakbijaksanaan kebijakan kampus yang sebenarnya sangat tidak populer. Sebut saja BOP Berkeadilan yang kurang sosialisasi dan sederet kebijakan lain yang tidak berpihak pada mahasiswa. Monetisasi pendidikan, sesuatu yang saya sendiri juga benci setengah mati, telah terjadi dengan jelas dimana2 tanpa pernah ditindaklanjuti oleh mahasiswanya sendiri. Seakan mereka tidak keberatan dengan hal itu. Solusinya, jika semua mahasiswa sudah pragmatis begitu, adalah mengerahkan seluruh lini organisasi formal kampus untuk menyatukan suara menentang kebijakan-kebijakan yang sangat tidak bijak itu. Sekali lagi, itu bukan hal mudah. Ya, terutama jika dipadukan dengan kewajiban akademis, kebutuhan dana untuk membayar dana kuliah, dan tuntutan orang tua untuk lulus cepat.
Sama seperti teman saya ini yang dipikirannya berkecamuk banyak hal, benturan sisi idealis dan pragmatis yang membuat dirinya gamang dan tertekan. Saya tidak menyalahkannya. Semua orang pasti gamang menghadapi pilihan seperti itu. Antara keinginan pribadi untuk lulus cepat dan bertahan lebih lama di kampus untuk memperjuangkan idealismenya. Mana yang harus didahulukan? Akankah idealisme itu bukan cuma sekedar gema yang berbunyi sesaat yang akan hilang ditelan waktu?
“Jadi menurut kalian gimana?” tanyanya pada akhirnya…pertanyaan sulit.
Kami memberi masukan dan saran sesuai kemampuan kami memahami ceritanya. Saya yakin dia tahu konsekuensi dari semua tindakannya dan saya tahu betul dia bukan orang yang gegabah. Ya, saya percaya padanya. Apapun yang dia putuskan saya pastikan dia mendapat dukungan saya sepenuhnya.
Karena Tuhan tidak akan memberikan kita impian tanpa kemampuan untuk mewujudkannya, kawan.
Karena orang yang paling merugi adalah orang yang seumur hidupnya tidak pernah mengerahkan kemampuan maksimalnya, sayang.
Karena aku tahu kamu bukan orang yang egois, yang ingin bermanfaat hanya untuk diri sendiri…iya kan?
So, plan it well and make a move! We set you free, buddy!
kebenaran dan gigi
Kebenaran itu mahal. Sangat mahal. Kita telah disuguhkan banyak perhelatan pencarian kebenaran (yang tidak ada titik temunya) di berbagai media, TV, koran, radio, internet. Kebenaran tentang kasus Bank Century, kasus om Bibit-Chandra, kasus pak Susno, pak Gayus, kasus video syur Luna-Ariel, video syur Ariel-Cut Tari, dan yang terakhir kasus gigi bang Morang.
Saya tidak mau menulis kasus penuh intrik yang saya sebut-sebut diatas. Selain tidak menarik, juga karena tidak bermanfaat, setidaknya bagi saya saat ini. Saya mau menulis tentang kasus yang terakhir, kasus gigi bang Morang yang hilang karena memperjuangkan kebenaran.
Ya, tulisan ini untuk mengapresiasi keberaniannya memperjuangkan kebenaran. Meski taruhannya 3 GIGI DEPAN.
Bang Morang ini teman saya. Dia orang Medan. Marganya Situmorang. Saya dan teman-teman tidak pernah memanggil nama aslinya. Bagi kami namanya adalah bang Morang atau bang Ucok. haha…(Peacee bang!). Dan kami memanggilnya ‘bang’ karena dia memang lahir lebih dulu beberapa tahun dari saya dan teman-teman saya. Ok, cukup tentang namanya.
Intinya beberapa minggu lalu dia datang ke kampus dengan masker. Saya pikir sedang flu. Waktu saya tanya, “Kenapa bang? Sakit?”, dia cuma menjawab dengan senyuman yang tentu saja gak kelihatan karena wajahnya tertutup masker. Saya jadi heran. Besoknya dia presentasi dengan masker juga. Aneh, pikir saya. Suaranya jadi tidak jelas.
Keheranan saya terjawab ketika teman saya berujar panjang bahwa bang Morang patah giginya karena dipukuli copet di patas. Saya tidak kaget. Dia memang punya insting yang baik soal copet. Beberapa kali dia bilang ke saya dan teman saya saat di Patas, “Hati-hati, Er. Itu yang dibelakang lo copet!”. Dan gawatnya dia selalu menantang bahaya. Kalau dia bisa membuat copet itu ditangkap, dia akan melakukan apa saja.
Ini kasus sepele. Dia dipukuli 3 copet di patas karena (sepertinya) melawan saat akan dicopet. Tapi, herannya, kemana orang-orang di patas itu?? Kan paling tidak ada 15 orang dalam satu patas!!
Mungkin begitulah nasib pejuang kebenaran. Selalu ditinggalkan sendirian. Karena kebenaran memang mahal dan tidak semua orang berani membayar harganya.
Sekarang bang Morang kehilangan 3 gigi depannya. Dicabut sampai akar-akarnya dan akan diganti gigi palsu yang saya yakin mahal juga harganya.
Kemarin saya tanya ke dia, “Bang kalo ada copet lagi, mau ngelawan lagi?”
Bang Morang (BM): Mau lah. Kenapa enggak?
Saya: Gak takut keilangan gigi lagi? Kata lo sakit dicabut gigi?
BM: Ya, sakit kalo gigi asli. Besok2 kan gigi palsu tuh jadi gak apa2…haha
Saya: ahaha…oh iya-ya…bener-bener bang!
Hmmm…Kira-kira butuh berapa gigi ya untuk menungkap kasus Century?
Pentingnya Update Status: versi komen FB
Beberapa waktu belakangan ini saya dilanda kemalasan yang amat sangat jika harus berurusan untuk mengupdate status di jejaring-jejaring sosial, rasanya lebih malas dari membawa charger laptop ke kampus!
Seringkali saya membuka account Facebook atau Twitter hanya untuk memandangi news feed yang muncul, membaca update-tan yang penting dan menarik, membuka link yang bagus, dan menggerutu jika ada orang yang menulis hal-hal aneh atau menjijikkan di statusnya. Saya jadi begitu skeptis dengan hal-hal begitu. Saya masih update status, tentu saja, tapi tidak seintens dulu. Jika harus dibuat grafik, maka grafik yang menunjukkan aktivitas saya di situs jejaring sosial akan berbentuk grafik parabola…titik puncaknya sudah lewat beberapa waktu lalu.
Beberapa waktu mengamati news feed, saya menemukan pola aneh dalam status orang-orang. Jika saya boleh mengkategorikan secara sembarangan, maka ada beberapa tipe pemakai jejaring sosial. Pertama, adalah jenis orang yang mau eksis. Apapun yang terjadi dengan dirinya, pasti muncul di statusnya. Kedua, adalah jenis orang yang kesepian. Mereka cenderung mellow dan statusnya tak terdefinisi. Ketiga, adalah jenis orang yang suka promosi. Promosi produk apapun. Tipe pengusaha sepertinya. Keempat, adalah tipe pemikir. Mereka adalah orang yang statusnya selalu berisi petuah atau pertanyaan. Kelima, orang yang mengumbar rasa. Mereka kadang sok mesra. Merasa tempat itu milik berdua. Kadang terlalu vulgar sehingga mengganggu mata. Kadang saya merasa mereka tidak memahami bahwa mereka memakai tempat umum. Mereka harusnya mengerti, hak mereka dibatasi oleh hak orang lain. Orang lain juga berhak untuk tidak merasa terganggu oleh status-status mereka yang gak penting. Keenam, mari kita sebut jenis ini sebagai “dan lain-lain”. Mereka adalah orang yang tidak masuk golongan manapun. Arbitrer.
Beberapa waktu dini hari lalu, saya update status dengan sebuah pertanyaan yang menggelitik “WHY DO PEOPLE KEEP UPDATING THEIR FACEBOOK AND TWITTER STATUS??“. Komen yang masuk lumayan banyak, padahal itu sudah dini hari. Ada yang bilang, those’re what FB and Twit are for, memang itulah gunanya facebook dan twitter. Yang lain bilang untuk menghabiskan pulsa yang udah mahal-mahal dibeli (>_<). Ada yang ingin keep in touch sama semua teman-temannya yang (padahal) belum tentu semuanya punya facebook juga. Yang lain lagi bilang karena dia mau promosi acara kampus, yang setelah saya konfirmasi katanya akan selalu rajin update status walaupun acara kampusnya sudah selesai karena menurutnya FB itu berguna, entah untuk bagi info, nyari info, atau sekedar doain orang (gak tau apa maksudnya yang ini). Ada lagi yang bilang, untuk pacaran. Gosh. Ini yang paling gak penting. Untungnya dia bilang dia udah pensiun dari agenda ini. Diantara semua komen itu, ada satu yang paling menyentil, “There’s no exact reason or rule in updating status. So, if u feel disturbed by ‘those’ status, just ignore them or u can leave these social networks.”
Keras. Tapi itu menyadarkan saya. Seberapapun saya heran akan kelakuan dan alasan orang mengupdate status, saya harus selalu ingat bahwa jejaring sosial adalah ruang publik yang pemakainya berasal dari beragam latar budaya sehingga variablenya sangat kaya. Lagipula itu hak mereka memanfaatkan accountnya untuk apa. Semua sah-sah saja dalam dunia komunitas virtual seperti ini. Sama seperti saya yang boleh menulis apa saja di blog ini, itu hak saya. Hanya saja saya juga harus ingat bahwa hak saya dibatasi oleh hak orang lain. Mungkin hanya itu yang bisa dijadikan pegangan supaya kita, pengguna fasilitas cyber, tidak merampas hak orang lain untuk merasa tidak tergganggu dengan tulisan-tulisan kita.
Sebagai penutup, saya tentu saja tidak bisa serta merta meninggalkan jejaring sosial seperti yang telah disarankan teman saya yang agak sentimen itu (mungkin karena hak pribadinya terusik oleh pertanyaan saya, mohon maaf kawan, ini hanya sebuah pertanyaan pengantar tidur). Saya masih percaya bahwa semua hal didunia ini punya dua sisi seperti mata uang. Situs jejaring sosial sangat berguna dalam banyak hal. Tapi juga bisa penuh dengan informasi yang gak penting. Informasi gak penting yang mungkin bagi sebagian orang yang lain penting. Who knows? Intinya, mari berinternet sehat!
