Posts Tagged ‘refleksi’
Lucu Sekali!
Bukankah ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita tertawa? Bukankah ada banyak orang yang cukup lucu untuk ditertawakan?
Seperti seseorang yang selalu melupakan sesuatu yang telah dia ucapkan atau lakukan sehingga kita kesulitan untuk berkomunikasi dengannya secara NORMAL.
Seperti lulusan luar negeri yang tidak mampu berpikir secara OBJEKTIF.
Seperti atasan yang menutup pintu diskusi ketika dia bad mood, sehingga terkesan sangat CHILDISH.
Seperti orang yang selalu mengomentari orang lain tapi tidak pernah BERKACA.
Seperti pendidik yang kurang punya manner sehingga terkesan UNEDUCATED.
Seperti seorang wanita yang entah kenapa punya hobi KOMPLAIN dan MARAH2.
Bukankah mereka lucu (dan menyedihkan)?
Semoga Allah melindungi kita dari orang-orang dan sifat-sifat seperti di atas. AMIN
Grow a day older
See the sunrise
Know it’s time for us to pack up all the past
And find what really lasts
If everything has been written down, so why worry, we say
It’s you and me with a little left of sanity
If life is ever changing, so why worry, we say
It’s still you and I with silly smile as we wave goodbye
And how will it be? Sometimes we just can’t see
A neighbor, a lover, a joker
Or a friend you can count on forever?
How tragic, how happy, how sorry?
For all we know, we’ve come this far not knowing why
So, would it be nice to sit back in silence?
Despite all the wisdom and the fantasies
Having you close to my heart as I say a little grace
I’m thankful for this moment ‘cause
I know that you
Grow a day older and see how this sentimental fool can be
When she tries to write a birthday song
When she thinks so hard to make your day
When she’s getting lost in all her thoughts
When she waits a whole day to say…
I’m thankful for this moment cause I know that I
Grow a day older and see how this sentimental fool can be
When he aches his arms to hold me tight
When he picks up lines to make me laugh
When he’s getting lost in all his calls
When we can’t wait to say: I love you…
If everything has been written down, so why worry, we say
It’s you and me with a little left of sanity
[Taken from Dee Recto Verso]
PILIHAN
Hidup itu merupakan serangkaian proses memilih dan menjalani konsekuensi-konsekuensi dari pilihan yang telah dilakukan. Setidaknya itu yang saya pikirkan. Namun hidup itu sendiri bukanlah sebuah pilihan. Hidup adalah kewajiban. Nah, ada yang tidak setuju?
Tadi siang teman saya memberikan kultum yang judulnya ia kutip dari sebuah majalah. Saya tidak benar-benar ingat judulnya, maklum malas mencatat kadang menumpulkan ingatan (^^v). Kurang lebih bunyinya seperti ini “Pilih yang dapat kamu pilih, jalani apa yang menjadi kewajibanmu dengan tersenyum”. Menurut saya itu judul yang menarik. Ya, menarik. Karena selama ini kita sering tidak sadar mana yang merupakan pilihan dan mana yang merupakan kewajiban. Kita sering mengaburkan sendiri pilihan dan kewajiban kita. Sehingga terkadang kita menyalahkan takdir Allah.
Sepertinya sedikit ilustrasi bisa membuat semuanya lebih jelas.Oke, ilustrasinya begini. Ada seorang pemabuk yang teler berat di siang hari di tempat umum. Ketika ditegur dia malah bilang, “Allah sudah menakdirkan saya untuk seperti ini, untuk mabuk begini. Yah, beginilah takdir Allah untuk saya. Saya sih terima aja.”
Nah, kalau di zaman kekhalifahan maka orang ini diberi hukuman dua kali. Pertama, karena dia mabuk. Kedua, karena dia menghina Allah. Tentu saja, dia ini lancang sekali. Dia membuat pilihan yang tidak baik dan dia menyalahkan Allah dengan bilang bahwa itu takdir Allah. Padahal, itu pilihannya sendiri!
Saya jadi ingat murid di tempat PPL saya. Waktu itu saya sedang bertugas di meja piket, mencatat murid-murid yang datang terlambat (kerjaan rutin mahasiswa PPL). Ada satu murid yang entah kenapa sering sekali terlambat. Ada percakapan menarik antara wakasek dengan si murid perempuan, sebut saja namanya Bunga.
“Bunga, kamu telat lagi. Kenapa kamu telat?” tanya pak wakasek seraya menyambut uluran tangan si anak.
“Iya pak. Saya kesiangan pak.” Jawab si bunga gelisah.
“Kenapa kamu kesiangan?” si pak wakasek mencoba menginterogasi.
“Hmm…Kenapa ya pak? Gak tau pak.” si anak kebingungan.
“Loh kok gak tau?”
“Iya pak. Saya kayaknya kesiangan karena takdir pak.”
Waktu itu saya tidak kuasa menahan tawa. Cekikikan sendiri karena betapa kreatif dan gak nyambungnya anak ini. Coba saja itu, kesiangan kok karena takdir. Harusnya dia jawab kegiatannya di malam hari yang membuat dia jadi sulit bangun pagi. Itu sungguh lucu buat saya. It was silly!
Tapi, terkadang kita juga demikian kan? Terkadang kita dengan mudahnya menyebut kata takdir untuk menjelaskan keburukan yang menimpa kita. Tapi kita tidak pernah menyebutkan takdir ketika kita mendapat kesuksesan. Mungkin itu contoh nyata bahwa manusia itu sering lupa dan tidak bersyukur. Menyalahkan sesuatu di luar dirinya untuk keburukan yang dia dapat dan memuji diri sendiri untuk kesuksesan yang datang. Padahal semuanya telah tertulis di lauhul mahfuz. Tidak ada satupun kejadian yang luput dari pengamatanNya. Tidak ada satupun kejadian yang belum ditulis.
Kita memang tidak pernah tau apa yang Allah takdirkan untuk kita. Tapi Allah memberikan kita kesempatan untuk membuat pilihan. Maka, takdir adalah hasil akhir dari pilihan dan serangkaian usaha terbaik yang kita lakukan.
Menyambung ke tema awal, pilih yang dapat kita pilih dan jalani kewajiban kita dengan senyuman. Maka mana yang menjadi pilihan dan mana kewajiban kita? Tentu saja pilihan adalah sesuatu yang kita pilih dengan sadar sementara kewajiban adalah sesuatu yang tidak mungkin kita pungkiri.
Semoga bisa dicerna ya maksudnya. Hehe.
Excuses!
Rasanya saya sudah lama sekali mengabaikan blog ini. Bukan karena bosan, bukan juga karena tidak punya tulisan, tapi lebih karena tidak punya waktu
(alasan klasik yang sebenarnya saya benci sekali). Oke, saya memang mengerjakan tulisan lain yang lebih penting bagi hidup saya, skripsi. Nah, makanya saya suka lupa kalo blog ini juga harus diisi dengan tulisan dan bahwa saya harus meluangkan waktu saya yang sebenarnya sama saja dengan waktu yang dimiliki Presiden di seluruh dunia (24jam-red) untuk melakukan tugas-tugas saya (sepertinya redundant skali kalimat ini!). Intinya, apapun yang saya kerjakan harusnya tidak menjadikan halangan bagi saya untuk melakukan hal-hal yang memang sudah saya plot (termasuk mengisi blog) dalam agenda saya. Ok. Ini excuse number 1: saya tidak punya sekretaris pribadi seperti presiden yang bisa mejadwal kegiatan2 saya!
Excuse selanjutnya adalah, kadang saya ingin menulis sesuatu yang lebih berisi. Lebih memberi makanan otak, kalau kata teman saya. Tapi sayangnya buku yang saya baca belakangan ini selalu saja seputar “Reserch Design” dan “Curriculum Planning”. Great. Apa sekalian saja saya copas skripsi saya di blog ini? Grrr… Intinya, saya harus meluangkan waktu lebih untuk membaca buku lain yang lebih menutrisi otak selain kedua jenis buku itu untuk dijadikan bahan pembicaraan di blog ini. oke. Jadi excuse number 2: saya terlalu cinta dengan bahasan mengenai kurikulum dan research design (ternyata hal itu kurang berdampak baik bagi perkembangan tulisan di blog ini).
So, do I have a concrete solution upon this matter? Sure, I do!
First, I need a secretary (well, I know I can’t afford such a brilliant yet charming secretary but at least I can afford myself to be my own brilliant and charming secretary)
Second, I can’t abruptly stop reading those kinda books because I’m still doing my thesis. Even, I will read more and more books on the same field, hehe (one thing for sure, I will add many more types of books on my reading catalogue).
Ok. Hope these excuses help me explain the reasons to those who kept asking why I stopped writing (PD banget, siapa juga yang nanyain?). And hopefully, this will become a new starting point for me (and also for you) to always commit to what we have started ^^
Let’s keep writing and inspiring the world!
It’s not the end…
Kematian itu selalu membawa trauma tersendiri. Padahal ia adalah sebuah keniscayaan yang pasti terjadi. Entah kapan. Entah dengan cara seperti apa. Anehnya, meskipun kita semua meyakini keniscayaan itu, selalu saja kita merasa was-was, insecure.
Malam itu. Saya dihadapkan pada beberapa berita menyedihkan, sekaligus.
1# teman saya mendapat telpon. Seketika dia terdiam. “Bokapnya teman gua akan menjalani operasi jantung selama 24 jam besok pagi, “ katanya. “Prosentasi kegagalannya 97%, mohon doanya ya.” jelasnya kepada saya saat saya memandanginya dengan penuh tanda tanya.
Saya ikut terdiam. Operasi selama 24jam? Kemungkinan berhasil hanya 3%? Apa rasanya itu? Bagaimana perasaan keluarga yang menunggu diluar r.operasi? Saya kehilangan kata-kata.
2# jam 3.20 pagi. Giliran telpon saya yang berdering. Teman baik saya. Ibunya memang sedang di RS sejak 3 hari lalu dan terancam operasi. Saya agak gemetar menganggkat telpon. “Malam ini ibu sudah di transfer ke RSAL setelah ditolak di Harapan Kita. Sekarang beliau sedang istirahat, kondisinya lemah. Mudah-mudahan lusa sudah bisa dioperasi sebelum pendarahannya menyebar ke otak. Mohon doanya ya,” jelasnya lancar sebelum saya sempat bicara banyak. Seketika itu pula saya kehilangan selera tidur. “Doakan ibuku dalam shalatmu ya!” saya mengangguk, tak bisa bicara.
3# bincang-bincang sebelum tidur. Biasanya kami (saya dan teman sekamar saya) membicarakan hal yang lucu, tapi kali ini kami membicarakan kematian: trending topic hari ini. Diantara semua teman dekat saya, mungkin dialah yang pernah merasakan begitu dekatnya kematian. Ya, ayahnya meninggal setahun lalu.
Dia : Rasanya lebih ke shock. Terutama karena ayahku sudah sakit lumayan lama jadi aku sudah punya bayangan akan seperti ini.
Saya : Kamu gak sedih?
Dia : Sedih tapi lebih ke shock aja.
Saya tidak mengerti.
Saya : Aku gak pernah tau seperti apa nantinya kalau tiba saatnya aku berhadapan dengan kejadian seperti itu…
Dia : Semua mengalir begitu aja, gak bisa dirancang dari sekarang.
Saya : Iya sih. Hmmm…tapi kira2 aku jadi yang nangis atau yang ditangisin ya? Maksudku apa aku akan pergi duluan atau belakangan dibanding orang2 yang kusayang.
Dia : Itu kan rahasiaNya, yang jelas kita semua pasti menghadapinya.
Saya : Iya,, semua pasti menghadapinya. Hanya ada yang menghadapinya duluan seperti kamu dan ada yang masih menunggu waktu untuk berhadapan dengan kejadian semacam itu seperti aku.
Dia : Iya.
Saya membiarkannya tertidur. Masih memikirkan kejadian-kejadian hari ini, saya gelisah sendiri. Kematian: sungguh ia begitu dekat. Saya ingat dulu mentor saya pernah membicarakan hal ini. Dia menyuruh saya merancang kematian. Waktu itu saya merasa aneh, ada-ada saja kematian kok dirancang. Tapi lambat laun saya mengerti, merancang kematian sama pentingnya dengan merancang kehidupan.
“Jangan sampai adanya kamu sama saja dengan tidak adanya kamu. Artinya orang bahkan tidak merasa kehilangan saat kamu tidak ada. Itu artinya kamu bukan orang yang membawa manfaat bagi orang lain,” begitu katanya.
“Jangan sampai juga orang-orang justru senang saat kamu tidak ada. Karena itu artinya kamu adalah orang yang membawa keburukan bagi orang lain, naudzubillah..” tambahnya
Intinya, baik buruknya orang memang bisa dilihat dari cara dia meninggal. Jika ia meninggal dengan cara yang baik (khusnul khatimah) dan banyak orang baik yang merasa kehilagan atas kepergiannya, maka Insya Allah dia telah hidup dengan baik…
Maka disini tugas kita adalah selalu berusaha hidup dengan baik dan selalu berusaha menjaga diri dalam kebaikan, supaya jika datang malaikat izrail, yang kita tidak tahu kapan, kita tidak sedang melakukan keburukan. Satu hal lagi yang perlu diingat, hidup dengan baik itu bukan hanya baik bagi diri sendiri, tapi juga baik bagi banyak orang. Tentu saja, karena kita tidak hidup untuk diri sendiri…
Kalau mau mengutip dialog dalam novel 5cm, maka “Gue harus jadi orang yang bermanfaat. Gue pengen orang lain bisa bernapas lebih lega dengan adanya gue disitu. Titik.”
Dasar Bocah!
Tadi siang dua anak kecil bertandang ke rumah saya. Sebut saja Adi dan Viki (saya lupa nama mereka!). Saya sedang dikamar, mendengarkan percakapan anak-anak itu dengan ibu saya.
Ibu : Adi udah kalah berapa puasanya?
Adi : Kalah Sembilan.
Ibu : Sembilan? Kok banyak? Kamu emangnya ngapain?
Adi : Aku sakit makanya jadi kalah banyak (nada menyesal)
Ibu : Oh, sakit. Sekarang puasa gak?
Adi : Puasa dong!
Ibu : Kalo Viki udah kalah berapa?
Viki : Aku kalah sebulan! (nada gembira)
Ibu : Sebulan??
Ibu : Haha…kamu kenapa gak puasa?
Viki : Masih kecil.
Adi : Iya, dia mah emang gak puasa! Males dasar!
Viki : Biarin aja. Weee!
Saya tertawa sendiri jadinya. Kalah puasa sebulan dan diumumkan dengan bangga. Kalau bukan anak kecil mana ada yang berani jujur begitu? Hehe…
Wake up!
Kadang kenyataan itu terasa jauh lebih fiktif daripada kisah fiksi itu sendiri, tapi tetap saja itu sebuah kenyataan yang harus diterima, disukai atau tidak.
Saya mencoba merenungi kata-katanya. Sulit sekali percaya bahwa semua hal di dunia ini tersistem dalam sebuah rekayasa yang direncanakan. Sulit sekali menerima bahwa ada konspirasi besar di dunia ini yang sangat berbahaya tapi tak pernah terungkap. Saya menyadarinya pertama kali saat membaca Da Vinci Code dan dokumen2 tambahan yang saya anggap mampu memuaskan keingintahuan saya. Saya hampir lupa tentang semua itu. Saya setengah menganggap itu msaih bagian dari cerita fiksi yang mungkin memang hanya fiktif belaka. Tapi teman saya ini melegitimasi semua itu. Dia bahkan memvalidasi kebenaran isu-isu itu. Ya, ada hal yang tidak kita ketahui karena kita terlalu sibuk dengan hal yang sengaja dibuat: fashion, life style, entertainment, food, gadget.
Mungkin seperti Neo yang mendapat pilihan untuk mengambil pil merah atau biru. Pil merah untuk jalan aman tapi tidak tahu apa-apa, sementara pil biru untuk meninggalkan semuanya tapi mengetahui hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Agaknya kita semua diberi pilihan yang sama.
Jangan Jadi Guru Begini!
Gambar yang d’link oleh teman saya.
Komentar saya: Lucu! Tapi jangan sampai generasi kita jadi guru/dosen yang kayak gitu!
Pesan untuk Kita
Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkankakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi.
Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan
melemparkannya keluar jendela.
Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, “Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melempakan sepatu Anda yang sebelah juga ?”
Si bapak tua menjawab, “Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.”
Ekonomis tapi Tragis
Saya belum pernah naik kereta. Sebuah pengakuan memalukan yang nyata. Terdengar aneh memang, tapi itu benar. Saya baru dua kali naik kereta. Pertama, ke Kota dengan KRL dan kedua, ke Bogor, juga dengan KRL. Bagi saya KRL itu bukan kereta. Alasannya adalah karena ia pendek! Saya mau naik kereta yang panjang!!
Berbekal kenekatan dan keingintahuan yang tak terbendung. Saya memutuskan naik kereta ke Jakarta (dari Solo) beberapa waktu lalu.
Kata novel yang pernah saya baca, naik kereta ekonomi itu seru. Kata teman saya, naik kereta ekonomi itu merakyat. Kata sepupu saya, naik kereta ekonomi itu biasa aja. Sementara kata ayah saya dan teman dekat saya, naik kereta ekonomi itu bahaya. Ada lagi yang bilang, kereta ekonomi itu ‘sebaiknya’ tidak dinaiki.
Saya abstain. Membiarkan takdir memilihkan kereta untuk saya. Sisa uang saya 159rb. Kalau saya naik kereta bisnis pun masih cukup untuk sekedar sampai rumah (dengan asumsi saya tidak beli apa-apa selama diperjalanan). Kalaupun harus naik kereta ekonomi, saya tidak keberatan karena saya mau merasakan pengalaman yang berbeda.
Akhirnya saya sampai di stasiun. Stasiun Ceper, Klaten. Ini stasiun kecil. Sekecil stasiun KRL di Kalibata (agak gedean dikit sih!). Dan ternyata tidak ada kereta bisnis (apalagi eksekutif) yang berhenti disini. It means, saya naik kereta ekonomi!
Kereta Bengawan. Itu namanya. Saya senang karena kereta ini benar-benar panjang! Saya tidak bisa melihat ujung-ujungnya ketika ia berhenti di depan saya. Saya merasa seperti anak kecil yang baru diajak ayahnya naik kereta. Berdebar-debar [lebai banget deh, tapi beneran!].
Sayangnya, kereta ini membuat saya berjanji untuk tidak naik kereta ekonomi lagi jika tidak terpaksa. Ya, ekonomis memang tapi sangat tragis…bahkan saya tidak sanggup menceritakannya sekarang. Maybe next time…

