Live, Love, Learn!

veritas^^

Posts Tagged ‘kenangan

NOT THINK

with 3 comments

Ini adalah satu dari sekian kisah unik di tempat PPL. Cerita di dunia SMP.

Waktu itu saya meminta evaluasi dari anak-anak di kelas. Awalnya mereka bingung. Belum pernah ada guru yang meminta dievaluasi oleh siswa, mungkin itu yang mereka pikir. Yah, bagi saya hal itu wajib. Bagaimana saya bisa tau apa yang mereka pikirkan jika saya tidak pernah bertanya?

Oke, karena kegiatan ini tidak memiliki alokasi waktu khusus, maka saya hanya mengambil waktu sisa di akhir jam pelajaran. Sepuluh menit. Saya harap itu cukup.

Mereka semangat sekali menjawab lima pertanyaan yang saya ajukan. Saya meminta mereka untuk tidak menuliskan nama, tapi ada saja yang diam2 bilang ke saya, “Miss, punya saya ada tanda tangannya loh. Nanti miss cari aja yang tanda tangannya paling keren!”

Saya tersenyum. Sepertinya dia ingin sekali saya membaca tulisannya dan mengetahui bahwa tanda tangannya lebih keren dari semua tanda tangan teman-temannya.

Sesampainya di kosan, saya membuka semua lembaran yang tadi saya kumpulkan. Jawaban mereka unik-unik. Yang paling membuat saya merasa aneh adalah jawaban atas pertanyaan nomer 2.

Apa yang tidak disukai dari cara mengajar Miss.Erni?

NOT THINK!!!

Saya kaget. WHAT???

Saya bertahan membaca beberapa lembar lagi. Jawaban serupa muncul beberapa kali.

NOT THINK ^^

Ada yang menulis besar-besar. Ada yang menulis miring, dan yang lain lagi dibubuhi smiley. Mereka pasti kawanan yang duduk berdekatan sehinggga jawabannya serupa.

Masalahnya adalah kenapa mereka menulis seperti itu?

Apa iya saya tidak berpikir saat mengajar (not think)?

Apa iya cara mengajar saya seperti orang yang tidak bisa berpikir?

Pusing saya jadinya.

Kertas selanjutnya memberi saya jawaban.

Tidak ada (NOTHING)!

Well done! Jadi itu maksudnya, nothing!!!

OMG, mereka benar2 mm…*berusaha mencari kata yang tepat*…cerdas!

Saya tertawa2 membaca itu, sepertinya bukan saya yang ‘not think’ tapi mereka….hehe

Pesan saya untuk mereka, jangan asal tulis!

Tapi saya benar-benar menghargai tulisan mereka, buktinya mereka tidak pernah tau kalau saya sempat kaget membaca hasil evaluasi itu, especially that ‘not think’ part :D

 

Written by erni

November 12, 2010 at 09:32 p11

Posted in Deviant, Those Kiddos

Tagged with , ,

melody

leave a comment »

It’s been days left unwritten

It’s been hours remained frozen

It’s been stories kept silent

Now, here I am, in the middle of a slow silent night, trying to figure out things, trying to retell the untold stories

The first thing came to my mind was my students, in SMP 44

I still remember the first time I came to their classrooms, typical classrooms

I recognized their look, a question look

I also remember the first day I taught them, not really smooth

Then I remember how I got mad making them paying much attention to what I said, exhausting

The next slides were colorful, full of happiness, sadness, and care

I learned a lot

That being a teacher is not all about teaching things from the book

That being a teacher is more to educate them how to be a good smart person

That being a teacher is not always to teach, but to rise their curiosity to learn

That being a teacher is to realize that I can do something to help this kids learn

….

And I was torn a part when they cried hearing the news of my leaving

It was a torture in the beginning

And it also a torture in the end

Yet, there are times we can meet

We will meet someday in someplace better

*thanks for the experience we shared together, students

Written by erni

November 8, 2010 at 09:32 p11

Posted in Those Kiddos

Tagged with ,

datasemen anti-terong

leave a comment »

(bahkan judul postingan kami [saya dan si pelaku dalam cerita ini] sama! wah, hebat! isi ceritanya juga mirip deh kayaknya)

Pembicaraan tentang terong itu tidak singkat. Maka sepertinya harus ada dua episode yang ditulis disini. Kami masih saja tidak mengerti dimana letak nikmatnya terong…

Sampai-sampai teman saya ini frustasi sendiri, dia takut jika ada tes ketahanan diri dimana dia diminta bertahan hidup seadanya (sementara yang ada cuma terong) maka dia pasti akan gagal dalam tes itu. Saya masih ingat kutipan SMS-nya:

Program Indonesia Mengajar akan mengkondisikan kita seperti di daerah terpencil yang kita masuki. Dan ketangguhan kita menghadapi medan pastinya akan diukur. Kamu merasa adil gak kalau pengukuran ketangguhan menghadapi medan diukur dari bisa makan terong atau gak? Dunia ini memang gak adil kalau cuma terong instrument pengukurnya.”

Saya tertawa lagi. Ini agak berlebihan. Saya pikir kami bisa lulus kok! Toh yang dinilai bukan hanya satu hal! Kecuali kalo lomba makan terong, maka saya bisa yakin dengan sepenuh jiwa raga bahwa kami memang akan kalah!

Pertanyaan terakhir yang gak kalah mengkhawatirkan,

“Kalau nanti suami kamu suka terong gimana ern?”

Saya terdiam dulu. “Gak masalah ta, aku bisa kok masak terong!” jawab saya yakin.

“Tapi kan kamu gak suka makan terong?”

“Iya, nanti aku makan bumbunya ajah, dia terongnya….hehe ^^”

Written by erni

October 4, 2010 at 09:32 p10

Posted in Deviant, Friends

Tagged with ,

Here I Come

leave a comment »

Saya selalu suka perjalanan, tapi tidak perjalanan yang satu itu. Perjalanan yang terasa begitu panjang, lebih panjang dari masa kanak-kanak saya. Perjalanan yang warnanya abu-abu. Perjalanan yang didalamnya saya hanya ingin diam. Itu adalah perjalanan ke makam mbah saya…

Saya merelakannya pergi, sungguh. Tapi, waktu itu beliau berpesan agar saya menemuinya liburan semester ini. Saya mengiyakan. Saya akan menemuinya setelah saya menyelesaikan urusan di kampus, setelah adik saya masuk SMA, setelah saya pulang dari Sawangan, setelah saya farewell dengan teman-teman sekelas  saya, setelah semua beban terangkat dari pundak saya…

Tapi beban yang ini jauh lebih berat. Beliau meninggalkan saya, sebelum saya sempat memenuhi janji saya. Dan saya akan tetap memenuhi janji saya. Meskipun untuk itu artinya saya harus maraton dari Sawangan ke Solo. And I did it…

Saya menemuinya di makam. Here I come, mbah.

“Mbah, maaf erni baru bisa datang sekarang, disini…” bisik saya dalam hati, lebih kepada diri sendiri, batu-batuan, angin, pepohonan, rumput, dan tanah.

Saya tahu saya telah memenuhi janji saya, memenuhi permintaan beliau untuk menemuinya. Meskipun pertemuan kali ini terasa berbeda, sangat berbeda. Karena saya tidak dapat lagi nasihat-nasihat darinya, karena saya tidak lagi bisa menyalami tangannya yang keriput, karena saya tidak menatap wajahnya melainkan tanah yang berbau harum.

Katanya ada yang ingin beliau sampaikan kepada saya liburan ini, dan saya hanya bisa membiarkan angin membawakan pesan itu untuk saya…karena saya terlambat datang.

Selamat jalan, Mbah. Doaku selalu, untukmu.

Written by erni

July 14, 2010 at 09:32 p07

Posted in Journey

Tagged with

Ekonomis tapi Tragis

with 2 comments

Saya belum pernah naik kereta. Sebuah pengakuan memalukan yang nyata. Terdengar aneh memang, tapi itu benar. Saya baru dua kali naik kereta. Pertama, ke Kota dengan KRL dan kedua, ke Bogor, juga dengan KRL. Bagi saya KRL itu bukan kereta. Alasannya adalah karena ia pendek! Saya mau naik kereta yang panjang!!

Berbekal kenekatan dan keingintahuan yang tak terbendung. Saya memutuskan naik kereta ke Jakarta (dari Solo) beberapa waktu lalu.

Kata novel yang pernah saya baca, naik kereta ekonomi itu seru. Kata teman saya, naik kereta ekonomi itu merakyat. Kata sepupu saya, naik kereta ekonomi itu biasa aja. Sementara kata ayah saya dan teman dekat saya, naik kereta ekonomi itu bahaya. Ada lagi yang bilang, kereta ekonomi itu ‘sebaiknya’ tidak dinaiki.

Saya abstain. Membiarkan takdir memilihkan kereta untuk saya. Sisa uang saya 159rb. Kalau saya naik kereta bisnis pun masih cukup untuk sekedar sampai rumah (dengan asumsi saya tidak beli apa-apa selama diperjalanan). Kalaupun harus naik kereta ekonomi, saya tidak keberatan karena saya mau merasakan pengalaman yang berbeda.

Akhirnya saya sampai di stasiun. Stasiun Ceper, Klaten. Ini stasiun kecil. Sekecil stasiun KRL di Kalibata (agak gedean dikit sih!). Dan ternyata tidak ada kereta bisnis (apalagi eksekutif) yang berhenti disini. It means, saya naik kereta ekonomi!

Kereta Bengawan. Itu namanya. Saya senang karena kereta ini benar-benar panjang! Saya tidak bisa melihat ujung-ujungnya ketika ia berhenti di depan saya. Saya merasa seperti anak kecil yang baru diajak ayahnya naik kereta. Berdebar-debar [lebai banget deh, tapi beneran!].

Sayangnya, kereta ini membuat saya berjanji untuk tidak naik kereta ekonomi lagi jika tidak terpaksa. Ya, ekonomis memang tapi sangat tragis…bahkan saya tidak sanggup menceritakannya sekarang. Maybe next time…

Written by erni

July 9, 2010 at 09:32 p07

Posted in Felony, Journey

Tagged with , , ,

Kuta dan Mekarsari

leave a comment »

I don’t like walking in Kuta beach even a feet…naked beach. This is why they dropped bomb in Bali.

Received: 30-Jun-2010 @16:19

Saya tidak tahu pasti apa yang dia lihat (pura-pura gak tau) tapi jelas Kuta tidak semenarik yang dibayangkan. At least saya tahu, danau di Mekarsari lebih menarik. For nobody’s naked there ^^

mekarsari punya danau lho...

ada jembatan(goyang)nya juga ^^

P.S.: judul dan isinya sinkron ga sih ini? *mikir mode*

Written by erni

June 30, 2010 at 09:32 p06

Posted in Journey

Tagged with

Mr.Monk dan OCD

leave a comment »

Berikut ini adalah dialog saya dengan salah satu sahabat saya (orang yang kecanduan Mr.Monk, detektif super jenius yang punya Obsessive Compulsive Disorder/OCD – sejenis penyakit yang membuat penderitanya kecanduan sesuatu dengan sangat intens, dalam hal ini keteraturan). Dugaan saya dia juga seperti Mr.Monk – terobsesi keteraturan.

R, kamu harus baca Mr.Monk! Yang terjadi disini benar2 anarkis!

Saya keheranan….anarkis?? (teringat aksi mahasiswa di Makassar yang bentrok dengan polisi dan rapat paripurna DPR soal Century yang ricuh beberapa hari lalu).

Ya, anarkis. Orang2 disini menaruh apapun sesuka hati, gak ditempatnya, menyatukan kertas-kertas dan menumpuknya di atas meja, mereka bahkan gak memperhatikan bahwa kaki meja gak berada pada satu garis lurus. Ini pelanggaran besar sepanjang sejarah terhadap prinsip-prinsip keteraturan! Bener2 Anarkis! Kamu pasti tau aku tidak akan bisa mengerjakan skripsi kalo aku mati, kan?!

Saya tertawa…entah kenapa semua penjelasan itu terdengar lucu. Ternyata itu yang dimaksud anarkis. If so, saya juga kadang bertindak anarkis dengan membiarkan kertas-kertas berserakan di atas tempat tidur!
Sepanjang hidupku, belum pernah ada orang yang mati karena melihat ketidakberaturan! Tenang aja!

Itu memang tidak akan membunuhku, tapi aku yang akan bunuh diri melihatnya! Apakah kamu gak pernah berpikir, bagaimana mereka bisa meluruskan hidupnya kalau meluruskan kaki meja saja mereka tidak mampu melakukannya? 6 tahun aku membiarkan semua ini terjadi disini dan sungguh kemurahan Allah membuatku bertahan sampai detik ini…ini adalah sumber ‘berantakan’nya kehidupanku.

Saya masih saja tertawa. Jika meluruskan kaki meja dianggap sebagai salah satu indikator lurusnya kehidupan seseorang, maka akan sangat mudah bagi orang untuk meluruskan hidupnya…mari meluruskan kaki meja, kawan!
Yasuwdahlah, beresin! Sebelum keinginan bunuh diri itu datang! Just make it simple, kalo berantakan ya beresin. Kalo ada yang berantakin lagi, ya omelin aja! OK.

Tentu saja! Siapapun tidak akan rela mati karena itu!

Saya pikir dalam hal ini dia memang agak berlebihan. Dan memang itulah OCD, perilaku yang selalu tampak berlebihan bagi orang lain (mereka kadang memang tampak sangat berlebihan, sperti mencuci tangan berulang kali, terus2an khwatir belum mengunci pintu, dsb).

Tidak ada yang salah dengan obsesi macam itu. Hanya saja hal itu perlu dikontrol. Terkadang saya juga berpikir saya menderita OCD level rendah. Ada hal-hal yang saya tidak bisa terima, ada hal-hal yang saya yakin harus saya lakukan jika ingin hidup saya berjalan baik, ada hal-hal yang saya pikir akan terasa sangat salah jika saya tidak melakukannya dengan cara saya, dsb. Semua itu kadang berdengung-dengung ditelinga saya. Luckily, saya tidak pernah benar-benar berlaku aneh karena saya masih bisa berdamai dengan situasi tertentu yang tidak memungkinkan saya melakukan hal-hal yang menurut saya harus dilakukan.

Apakah hal ini mengerikan?

Well, not really. Saya tidak terlalu khawatir karena sepertinya OCD memang dimiliki oleh semua orang hidup yang mampu berpikir (asumsi pribadi tanpa landasan teori). Tentu saja kadarnya berbeda pada setiap orang. Jadi, ini memang hanya masalah self-awareness. Kesadaran untuk tetap waras dan rasional dalam pemikiran seekstrim apapun. Seperti yang terjadi pada kawan saya di atas, akankah dia mati melihat meja yang tidak lurus? Tentu saja,Tidak! Masalahnya adalah apakah dia mau menoleransi keadaan itu atau tidak, apakah dia akan membereskannya dan kemudian merasa lega atau hanya terus-menerus merasa tidak nyaman tanpa melakukan tindakan. Jadi pemecahannya memang ada pada kata ‘mengambil tindakan’ atau ‘take action’.

Written by erni

March 7, 2010 at 09:32 p03

Posted in Friends, Ideas

Tagged with , , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 115 other followers