Posts Tagged ‘inspirasi’
Perempuan
Kemarin teman saya membeli buku yang menurut saya unik, judulnya Psikologi Perempuan. Saya pikir hanya laki-laki yang benar-benar ingin memahami perempuan saja yang mau repot-repot membaca buku seperti itu. So sweet sekali, beruntung orang yang jadi istrinya nanti, akan sangat dimengerti!
Tapi, belum-belum dia sudah protes.
“Kenapa buku ini tebel banget ya? 735 halaman? Apa aja coba yang ditulis?” tanyanya heran.
“Baca aja. Besok2 pinjem ya!” kata saya, tidak menjawab.
Membahas tentang perempuan memang tidak ada habisnya. Entah kenapa, sepertinya Allah memang memberikan karunia lebih bagi makhluknya yang satu ini: kompleksitas perasaan. Sebagai perempuan saya sendiri sering kesulitan mengekpresikan diri secara tepat supaya bisa dimengerti paling tidak oleh orang-orang disekitar saya. Sehingga saya yakin, akan menjadi tantangan besar bagi orang lain untuk memahami kami.
Dalam dunia pernikahan pun agaknya akan demikian. Kata orang-orang yang sudah mengalami, dalam pernikahan itu ada dua tantangan besar yaitu, keuangan dan komunikasi. Mungkin karena perbedaan dalam cara memproses informasi sehingga efek yang ditimbulkan pun berbeda. Perempuan memang cenderung lebih menggunakan perasaan sehingga mereka cenderung lebih sensitif. Ya, apalagi saat PMS. Tingkat sensitivitas perempuan itu bisa berkali-kali lipat jadinya. Kebiasaan saya adalah mendeteksi orang-orang PMS dan agak menghindar dari mereka. Ya, karena biasanya mereka jadi buas! Galak tak tertahankan, semua jadi salah!
Tapi, diluar semua dilemma terkait perempuan, tetap saja perempuan itu dimuliakan dalam islam. Kata Rasulullah, lelaki paling luar biasa sekaligus paling romantis yang saya tau, “Laki-laki yang baik adalah yang bersikap lembut terhadap istrinya” (^_^)
PILIHAN
Hidup itu merupakan serangkaian proses memilih dan menjalani konsekuensi-konsekuensi dari pilihan yang telah dilakukan. Setidaknya itu yang saya pikirkan. Namun hidup itu sendiri bukanlah sebuah pilihan. Hidup adalah kewajiban. Nah, ada yang tidak setuju?
Tadi siang teman saya memberikan kultum yang judulnya ia kutip dari sebuah majalah. Saya tidak benar-benar ingat judulnya, maklum malas mencatat kadang menumpulkan ingatan (^^v). Kurang lebih bunyinya seperti ini “Pilih yang dapat kamu pilih, jalani apa yang menjadi kewajibanmu dengan tersenyum”. Menurut saya itu judul yang menarik. Ya, menarik. Karena selama ini kita sering tidak sadar mana yang merupakan pilihan dan mana yang merupakan kewajiban. Kita sering mengaburkan sendiri pilihan dan kewajiban kita. Sehingga terkadang kita menyalahkan takdir Allah.
Sepertinya sedikit ilustrasi bisa membuat semuanya lebih jelas.Oke, ilustrasinya begini. Ada seorang pemabuk yang teler berat di siang hari di tempat umum. Ketika ditegur dia malah bilang, “Allah sudah menakdirkan saya untuk seperti ini, untuk mabuk begini. Yah, beginilah takdir Allah untuk saya. Saya sih terima aja.”
Nah, kalau di zaman kekhalifahan maka orang ini diberi hukuman dua kali. Pertama, karena dia mabuk. Kedua, karena dia menghina Allah. Tentu saja, dia ini lancang sekali. Dia membuat pilihan yang tidak baik dan dia menyalahkan Allah dengan bilang bahwa itu takdir Allah. Padahal, itu pilihannya sendiri!
Saya jadi ingat murid di tempat PPL saya. Waktu itu saya sedang bertugas di meja piket, mencatat murid-murid yang datang terlambat (kerjaan rutin mahasiswa PPL). Ada satu murid yang entah kenapa sering sekali terlambat. Ada percakapan menarik antara wakasek dengan si murid perempuan, sebut saja namanya Bunga.
“Bunga, kamu telat lagi. Kenapa kamu telat?” tanya pak wakasek seraya menyambut uluran tangan si anak.
“Iya pak. Saya kesiangan pak.” Jawab si bunga gelisah.
“Kenapa kamu kesiangan?” si pak wakasek mencoba menginterogasi.
“Hmm…Kenapa ya pak? Gak tau pak.” si anak kebingungan.
“Loh kok gak tau?”
“Iya pak. Saya kayaknya kesiangan karena takdir pak.”
Waktu itu saya tidak kuasa menahan tawa. Cekikikan sendiri karena betapa kreatif dan gak nyambungnya anak ini. Coba saja itu, kesiangan kok karena takdir. Harusnya dia jawab kegiatannya di malam hari yang membuat dia jadi sulit bangun pagi. Itu sungguh lucu buat saya. It was silly!
Tapi, terkadang kita juga demikian kan? Terkadang kita dengan mudahnya menyebut kata takdir untuk menjelaskan keburukan yang menimpa kita. Tapi kita tidak pernah menyebutkan takdir ketika kita mendapat kesuksesan. Mungkin itu contoh nyata bahwa manusia itu sering lupa dan tidak bersyukur. Menyalahkan sesuatu di luar dirinya untuk keburukan yang dia dapat dan memuji diri sendiri untuk kesuksesan yang datang. Padahal semuanya telah tertulis di lauhul mahfuz. Tidak ada satupun kejadian yang luput dari pengamatanNya. Tidak ada satupun kejadian yang belum ditulis.
Kita memang tidak pernah tau apa yang Allah takdirkan untuk kita. Tapi Allah memberikan kita kesempatan untuk membuat pilihan. Maka, takdir adalah hasil akhir dari pilihan dan serangkaian usaha terbaik yang kita lakukan.
Menyambung ke tema awal, pilih yang dapat kita pilih dan jalani kewajiban kita dengan senyuman. Maka mana yang menjadi pilihan dan mana kewajiban kita? Tentu saja pilihan adalah sesuatu yang kita pilih dengan sadar sementara kewajiban adalah sesuatu yang tidak mungkin kita pungkiri.
Semoga bisa dicerna ya maksudnya. Hehe.
Prinsip Maturitas
Kedewasaan adalah hal yang terdengar begitu menyenangkan. Saya ingat dulu saat saya masih di usia belasan saya selalu berharap saya cepat dewasa. Dalam pandangan saya, menjadi dewasa itu membanggakan. Orang dewasa terlihat kuat, pintar, dan independen. Saya sungguh tidak tahu bahwa semua itu hanya refleksi yang saya anggap ada pada diri orang dewasa. Nyatanya tidak banyak orang dewasa yang seperti itu. Yang banyak saya temui justru orang dewasa yang perilakunya masih seperti anak-anak. Mungkin termasuk diri saya sendiri. Saya sering bertanya-tanya, apakah saya sudah bisa dikatakan dewasa? Seperti apa sebenarnya orang dewasa itu? Apakah dewasa berarti tidak pernah menangis? Atau tidak pernah nonton Spongebob? Atau jangan-jangan dewasa berarti tidak pernah makan choki-choki? Well, saya jadi merasa tidak dewasa!
Mungkin ada yang pernah dengar tentang prinsip maturitas. Menurut dr. Muadz, Sp.KJ, seseorang bisa disebut dewasa atau matang kalau :
- Berpegang pada reality principles
- Independent
- Correct and correctable
- Understand and understable
Kata sahabat saya yang belakangan ini sedang mendalami schizophrenia (emang iya? Pokoknya dia tertarik masalah ini deh!): “Pada dasarnya, setiap orang, pada saat mengalami tekanan/masalah/stress, akan mengalami regresi (kemunduran) pada satu atau beberapa sisi maturitasnya. Entah itu tiba – tiba menjadi tidak mau mengerti orang lain atau keadaan, tidak mau meluruskan kesalahan orang lain atau tidak mau disalahkan (dengan kata lain tidak mau diluruskan), atau tiba – tiba menjadi sangat bergantung pada seseorang, dan pada tingkat yang paling parah tidak lagi bisa bertahan dalam reality principles (mengalami gangguan daya nilai realitas).”
Maka apakah kita telah menjadi orang yang bisa dimengerti dan mau mengerti orang lain?
Apakah kita telah menjadi orang yang mau mengakui kesalahan jika salah dan mau diluruskan?
Dan apakah kita bisa hidup tanpa harus banyak bergantung pada orang lain? Apakah kita telah punya kepercayaan diri yang cukup untuk mengerti bahwa kita cukup mampu melakukan banyak hal tanpa harus menunggu komando orang lain?
Dan yang terpenting, apakah kita memiliki reality principle yang benar? Apakah kebenaran dan keyakinan yang kita percayai adalah kebenaran yang bisa memang benar dan bukan yang kita ada-adakan?
Jika semua jawaban atas pertanyaan di atas adalah positif, maka (Insya Allah) kita bisa dikatakan dewasa berdasarkan prinsip maturitas di atas. Jika belum, maka ya itu pilihan, apakah kita mau berproses menjadi dewasa atau tetap bertahan menjadi anak-anak dengan fisik yang tidak lagi imut!
Ya, pada akhirnya itu hanya satu teori. Saya kadang suka sekali membela diri dengan banyak alasan. Salah satu pembelaan diri saya untuk masalah yang satu ini adalah: “Manusia punya beragam dimensi. Ada dimensi biologis, psikis, intelegensi, sosial, dan sebagainya. Agaknya setiap dimensi itu tidak tumbuh secara bersamaan. Mungkin saja kita dewasa pada sisi yang satu tapi belum pada sisi yang lain. Itu tidak menjadikan kita tidak dewasa, hanya belum sepenuhnya dewasa.”
^^v
Dan karena kedewasaan adalah sebuah proses, maka bagi saya ia adalah proses yang tidak pernah berhenti.
Wake up!
Kadang kenyataan itu terasa jauh lebih fiktif daripada kisah fiksi itu sendiri, tapi tetap saja itu sebuah kenyataan yang harus diterima, disukai atau tidak.
Saya mencoba merenungi kata-katanya. Sulit sekali percaya bahwa semua hal di dunia ini tersistem dalam sebuah rekayasa yang direncanakan. Sulit sekali menerima bahwa ada konspirasi besar di dunia ini yang sangat berbahaya tapi tak pernah terungkap. Saya menyadarinya pertama kali saat membaca Da Vinci Code dan dokumen2 tambahan yang saya anggap mampu memuaskan keingintahuan saya. Saya hampir lupa tentang semua itu. Saya setengah menganggap itu msaih bagian dari cerita fiksi yang mungkin memang hanya fiktif belaka. Tapi teman saya ini melegitimasi semua itu. Dia bahkan memvalidasi kebenaran isu-isu itu. Ya, ada hal yang tidak kita ketahui karena kita terlalu sibuk dengan hal yang sengaja dibuat: fashion, life style, entertainment, food, gadget.
Mungkin seperti Neo yang mendapat pilihan untuk mengambil pil merah atau biru. Pil merah untuk jalan aman tapi tidak tahu apa-apa, sementara pil biru untuk meninggalkan semuanya tapi mengetahui hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Agaknya kita semua diberi pilihan yang sama.
Lotion non-Anti Nyamuk
Saya memang tidak pernah benar-benar ingin tinggal di tempat kost saya yang sekarang karena beberapa alasan. Alhasil saya selalu membawa barang seminim mungkin karena saya tahu saya pasti kembali ke rumah setiap kali ada kesempatan. Awalnya saya malah dengan brutal memasukkan tas saya beserta isinya ke dalam lemari dengan alasan ajaib bahwa hal itu memudahkan saya untuk selalu pulang ke rumah. Ya, saya jadi tidak perlu menata baju ke dalam tas lagi, tinggal ambil tasnya dan saya langsung berangkat pulang. Pragmatis sekali saya ini. Teman sekamar saya pun protes melihat tingkah saya ini dan akhirnya saya terpaksa menata baju-baju saya di lemari…
Teman saya sudah banyak protes karena kelakuan-kelakuan saya yang mungkin menurutnya agak ganjil. Saya tidak punya kotak mandi, tidak bawa handuk yang besar, tidak punya banyak baju di lemari, tidak membawa sisir, dsb. Satu lagi akibat keengganan saya berkemas dengan seksama karena tidak benar-benar ingin kos. Saya tidak membawa lotion. Saat saya membutuhkannya karena merasa udara di kamar terlalu kering, saya bertanya pada teman saya..
Saya : Pip, bawa lotion gak? Minta dong. Lupa bawa nih.
Pip : Ada tuh di tas. Autan, ambil aja.
Saya : Itu kan lotion anti nyamukkkk…gak ada lotion yang normal?
Pip : Loh itu bukan lotion ya?
Saya : Mmmm…lotion sih, tapi aku butuh yang bukan autan, bukan anti nyamuk tapi pelembab >_<
Pip : Wah, aku gak pake lotion yang begitu er. hihi…
Saya pun menelan kepahitan, mempertimbangkan apakah autan juga bisa disamakan dengan lotion lain yang tidak membunuh nyamuk.
Jangan-jangan autan lebih fungsional dibanding lotion lain karena bisa menghindarkan kita dari nyamuk. Tapi tetap saja saya ragu memberinya kedudukan yang setara dengan lotion non-anti nyamuk.
Pesan untuk Kita
Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkankakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi.
Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan
melemparkannya keluar jendela.
Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, “Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melempakan sepatu Anda yang sebelah juga ?”
Si bapak tua menjawab, “Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.”
Nikmati Saja
Setelah sekian lama mendiamkan FB, akhirnya saya beritikad baik untuk merapikan isinya. Dimulai dengan membersihkan inbox, sebuah pekerjaan yang ternyata tidak mudah. Beberapa artikel terpilih akan saya posting disini, supaya inbox saya lebih bersih ^^
Berikut ini artikel dari Yosia (entah siapa, saya gak kenal).
Hari yang cerah bukan ditandai dengan matahari yang bersinar terang
atau udara yang sejuk, melainkan dari hati dan pikiran yang segar.
Kecerahan suatu hari dimulai dari diri anda sendiri. Kita tahu bahwa
sesuatu yang dimulai dengan baik merupakan separuh dari pencapaian
tujuan.
Karena itu, memulai aktivitas hari ini dengan kecerahan suasana
adalah modal besar untuk menyelesaikan hari dengan baik pula.
Bagaimana memulai hari dengan cerah sangat dipengaruhi oleh pola
hidup kita.
Berikut beberapa tips ringan agar kita bisa memulai hari dengan
cerah.
1–Mulailah dari malam hari.
Kita tak bisa berharap bangun dengan segar jika di malam harinya tak
cukup tidur nyenyak. Hari esok yang cerah dimulai dari malam ini.
Bila anda masih mempunyai masalah, yakinlah masih ada waktu esok
untuk menyelesaikannya lebih baik lagi. Malam ini, beristirahatlah
sebaik-baiknya.
2–Bangun pagi lebih pagi.
Bangunlah lebih pagi daripada terbitnya matahari. Jumpai keheningan
dan kesunyian. Pagi buta adalah saat yang tepat untuk menemukan sisi
damai dalam diri anda.
3–Damaikan pikiran dan tentramkan jiwa
Jangan terburu melakukan aktivitas. Resapi saja suasana pagi yang
damai ini. Berdoa, sampaikan syukur atas hidup yang masih diberikan
pada kita dan bersaat teduh.
4–Segarkan tubuh.
Minum air. Hirup aroma tea atau kopi yang menyegarkan. Berjalan-
jalanlah keluar. Pompa udara banyak-banyak ke dalam paru-paru.
Lakukan olahraga ringan, Mandi dengan air segar. Bersihkan tubuh baik-
baik. Tetaplah mengingat janji anda tadi pagi untuk melakukan sesuatu
yang berguna bagi semesta hari ini.
5–Dapatkan sarapan secukupnya.
Isi perut anda secukupnya. Sarapan yang baik adalah modal untuk
kebugaran tubuh anda sepanjang hari. Jangan asal kenyang, namun
cukupkan kebutuhan energi dan gizi.
6–Sapalah orang-orang yang anda jumpai.
Terbarkan senyum. Tak peduli apakah matahari bersinar cerah atau
mendung menggayut, sapalah orang-orang yang anda jumpai. Tanyakan
kabar mereka, maka jangan terkejut jika mereka pun akan membalas
senyum anda.
7–Jangan mengeluh.
Apa pun yang terjadi, entah itu hari hujan, jalanan macet, kereta
datang terlambat, kendaraan mogok, atau apa pun yang terjadi,
terimalah semua itu apa adanya.
Going the Extra Miles
“Akhi, tahukah kalian apa yang membuat orang sukses berbeda dengan orang yang biasa?” tanya Ustad Salman retoris.
“Menurut buku yang sedang saya baca, ada dua hal yang paling penting dalam mempersiapkan diri untuk sukses, yaitu (pertama) going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata. Kalau orang belajar 1 jam, dia akan belajar 5 jam, kalau orang berlari 2 kilo, dia akan berlari 3 kilo. Kalau orang menyerah di detik ke 10, dia tidak akan menyerah sampai detik ke 20. Selalu berusaha meningkatkan diri lebih dari orang biasa. Karena itu mari kita budayakan going the extra miles, lebihkan usaha, waktu, upaya, tekad, dan sebagainya dari orang lain. Maka kalian akan sukses,” katanya sambil menjentikkan jari.
“Resep lainnya adalah tidak pernah mengizinkan diri kalian dipengaruhi oleh unsur diluar diri kalian. Oleh siapapun, apapun, dan suasana bagaimanapun. Artinya, jangan mau sedih, marah, kecewa, atau takut karena faktor luar. Kalianlah yang berkuasa terhadap diri kalian sendiri, jangan serahkan kekuasaan kepada orang lain. Orang boleh menodong senapan, tapi kalian punya pilihan, untuk takut atau tetap tegar. Kalian punya pilihan di lapisan diri kalian paling dalam, dan itu tidak ada hubungannya dengan pengaruh luar,” katanya lebih bersemangat lagi.
“Jadi pilihlah suasana hati kalian, dalam situasi paling kacau sekalipun. Karena kalianlah master dan penguasa hati kalian. Dan hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya adalah hati orang sukses,” tandasnya dengan mata berkilat-kilat.
[Negeri 5 Menara Pg.107-8]
4,5 tahun
“Boleh gak aku lulus 4,5 tahun?” teman saya bertanya.
Saya terhenyak, Hei ada apa ini? sementara saya mau lulus 3,5 tahun tapi dia malah mau 4,5 tahun! “Kenapa mau 4,5 tahun?” tanya saya akhirnya.
“Panjang ceritanya. Singkatnya karena aku berpikir masih banyak hal yang harus dibenahi di kampus.”
Saya dan teman saya yang lain terdiam. Menunggu penjelasan lain yang lebih menjelaskan. Dan diapun bercerita, panjang, terburu-buru namun tak mengurangi kejelasan maknanya. Seketika saya pun merasa, “Bangsa ini membutuhkan banyak orang seperti dia!”
Ya, teman saya ini berniat mengorbankan masa studinya karena dia punya visi. Punya cita-cita. “Aku mau meninggalkan kampus dengan tenang!” begitu katanya. Dengan tenang karena telah berbuat sesuatu yang baik dan membaikkan bagi kampusnya. Bukan hal mudah. Ya, mengubah sistem memang tidak pernah mudah.
Selama ini dia berkecimpung dalam dunia perpolitikan kampus. Teman saya ini memang mengambil peran yang cukup signifikan dalam ranah perpolitikan kampusnya. Menurutnya selama beberapa tahun belakangan ini mahasiswa sangat tidak solid menghadapi beragam ketidakbijaksanaan kebijakan kampus yang sebenarnya sangat tidak populer. Sebut saja BOP Berkeadilan yang kurang sosialisasi dan sederet kebijakan lain yang tidak berpihak pada mahasiswa. Monetisasi pendidikan, sesuatu yang saya sendiri juga benci setengah mati, telah terjadi dengan jelas dimana2 tanpa pernah ditindaklanjuti oleh mahasiswanya sendiri. Seakan mereka tidak keberatan dengan hal itu. Solusinya, jika semua mahasiswa sudah pragmatis begitu, adalah mengerahkan seluruh lini organisasi formal kampus untuk menyatukan suara menentang kebijakan-kebijakan yang sangat tidak bijak itu. Sekali lagi, itu bukan hal mudah. Ya, terutama jika dipadukan dengan kewajiban akademis, kebutuhan dana untuk membayar dana kuliah, dan tuntutan orang tua untuk lulus cepat.
Sama seperti teman saya ini yang dipikirannya berkecamuk banyak hal, benturan sisi idealis dan pragmatis yang membuat dirinya gamang dan tertekan. Saya tidak menyalahkannya. Semua orang pasti gamang menghadapi pilihan seperti itu. Antara keinginan pribadi untuk lulus cepat dan bertahan lebih lama di kampus untuk memperjuangkan idealismenya. Mana yang harus didahulukan? Akankah idealisme itu bukan cuma sekedar gema yang berbunyi sesaat yang akan hilang ditelan waktu?
“Jadi menurut kalian gimana?” tanyanya pada akhirnya…pertanyaan sulit.
Kami memberi masukan dan saran sesuai kemampuan kami memahami ceritanya. Saya yakin dia tahu konsekuensi dari semua tindakannya dan saya tahu betul dia bukan orang yang gegabah. Ya, saya percaya padanya. Apapun yang dia putuskan saya pastikan dia mendapat dukungan saya sepenuhnya.
Karena Tuhan tidak akan memberikan kita impian tanpa kemampuan untuk mewujudkannya, kawan.
Karena orang yang paling merugi adalah orang yang seumur hidupnya tidak pernah mengerahkan kemampuan maksimalnya, sayang.
Karena aku tahu kamu bukan orang yang egois, yang ingin bermanfaat hanya untuk diri sendiri…iya kan?
So, plan it well and make a move! We set you free, buddy!
marah itu baik
Marah itu baik kalau untuk kebaikan.
Artinya dengan kemarahan itu maka orang lain akan sadar dengan kesalahannya dan bisa memperbaiki diri.
Marah itu baik kalau tidak dengan emosi yang berlebihan.
Artinya kemarahan itu tidak melebar kemana-mana. Kemarahan yang terfokus pada kesalahan dan tidak digunakan sebagai sarana mengumbar emosi.
Marah itu baik kalau demi membela kebenaran.
Artinya marah karena melihat orang lemah disakiti, melihat agama dinodai, melihat nilai-nilai diabaikan, maka marah itu adalah baik.
Marah itu baik kalau tidak menjadi dendam.
Artinya marahnya memang ditujukan untuk kebaikan untuk memperbaiki orang yang dimarahi, jadi tidak perlu ada dendam.
Marah itu baik kalau setelah marah kita tidak menyesal.
Artinya kita tahu kita telah marah sesuai dengan aturan-aturan yang ada dan tidak terlalu mendzalimi si terdakwa.
Marah itu baik kalau pada tempatnya.
Artinya tidak sembarangan memarahi orang yang belum benar-benar terbukti salah.
Marah itu baik kalau dilandasi cinta.
Artinya kita marah karena kita mencintainya, bukan membencinya. Jika kita membencinya, buat apa buang2 energi memarahinya untuk membuatnya lebih baik? Useless.
Jadi, kamu boleh marah, sayang. Boleh. Asalkan itu dengan alasan dan cara yang baik. Bahkan kamu boleh memarahiku, jika aku memang salah. Karena itu artinya kamu mencintaiku dan menginginkan kebaikan untukku…

