Posts Tagged ‘dreams’
4,5 tahun
“Boleh gak aku lulus 4,5 tahun?” teman saya bertanya.
Saya terhenyak, Hei ada apa ini? sementara saya mau lulus 3,5 tahun tapi dia malah mau 4,5 tahun! “Kenapa mau 4,5 tahun?” tanya saya akhirnya.
“Panjang ceritanya. Singkatnya karena aku berpikir masih banyak hal yang harus dibenahi di kampus.”
Saya dan teman saya yang lain terdiam. Menunggu penjelasan lain yang lebih menjelaskan. Dan diapun bercerita, panjang, terburu-buru namun tak mengurangi kejelasan maknanya. Seketika saya pun merasa, “Bangsa ini membutuhkan banyak orang seperti dia!”
Ya, teman saya ini berniat mengorbankan masa studinya karena dia punya visi. Punya cita-cita. “Aku mau meninggalkan kampus dengan tenang!” begitu katanya. Dengan tenang karena telah berbuat sesuatu yang baik dan membaikkan bagi kampusnya. Bukan hal mudah. Ya, mengubah sistem memang tidak pernah mudah.
Selama ini dia berkecimpung dalam dunia perpolitikan kampus. Teman saya ini memang mengambil peran yang cukup signifikan dalam ranah perpolitikan kampusnya. Menurutnya selama beberapa tahun belakangan ini mahasiswa sangat tidak solid menghadapi beragam ketidakbijaksanaan kebijakan kampus yang sebenarnya sangat tidak populer. Sebut saja BOP Berkeadilan yang kurang sosialisasi dan sederet kebijakan lain yang tidak berpihak pada mahasiswa. Monetisasi pendidikan, sesuatu yang saya sendiri juga benci setengah mati, telah terjadi dengan jelas dimana2 tanpa pernah ditindaklanjuti oleh mahasiswanya sendiri. Seakan mereka tidak keberatan dengan hal itu. Solusinya, jika semua mahasiswa sudah pragmatis begitu, adalah mengerahkan seluruh lini organisasi formal kampus untuk menyatukan suara menentang kebijakan-kebijakan yang sangat tidak bijak itu. Sekali lagi, itu bukan hal mudah. Ya, terutama jika dipadukan dengan kewajiban akademis, kebutuhan dana untuk membayar dana kuliah, dan tuntutan orang tua untuk lulus cepat.
Sama seperti teman saya ini yang dipikirannya berkecamuk banyak hal, benturan sisi idealis dan pragmatis yang membuat dirinya gamang dan tertekan. Saya tidak menyalahkannya. Semua orang pasti gamang menghadapi pilihan seperti itu. Antara keinginan pribadi untuk lulus cepat dan bertahan lebih lama di kampus untuk memperjuangkan idealismenya. Mana yang harus didahulukan? Akankah idealisme itu bukan cuma sekedar gema yang berbunyi sesaat yang akan hilang ditelan waktu?
“Jadi menurut kalian gimana?” tanyanya pada akhirnya…pertanyaan sulit.
Kami memberi masukan dan saran sesuai kemampuan kami memahami ceritanya. Saya yakin dia tahu konsekuensi dari semua tindakannya dan saya tahu betul dia bukan orang yang gegabah. Ya, saya percaya padanya. Apapun yang dia putuskan saya pastikan dia mendapat dukungan saya sepenuhnya.
Karena Tuhan tidak akan memberikan kita impian tanpa kemampuan untuk mewujudkannya, kawan.
Karena orang yang paling merugi adalah orang yang seumur hidupnya tidak pernah mengerahkan kemampuan maksimalnya, sayang.
Karena aku tahu kamu bukan orang yang egois, yang ingin bermanfaat hanya untuk diri sendiri…iya kan?
So, plan it well and make a move! We set you free, buddy!
they’re called dreams…
Orang seperti saya akan mati tanpa mimpi!
Itulah pernyataan Andrea Hirata di acara talk show WMM tanggal 22 Januari lalu. Sebuah pernyataan yang membuat saya merinding.
Saya lahir dan besar di daerah yang mungkin tidak pernah teman-teman bayangkan. Saya lahir di pelosok Belitong. Tempat yang mungkin jin juga gak mau buang anak disana!
Terbayang oleh saya sebuah tempat bersetting pedesaan yang sangat muram, tak ada lampu, tak ada jalan raya, apalagi internet! Sebuah tempat yang lebih terbelakang dari kampung nenek saya di tahun 1995-an yang notabene masih di kawasan jawa. Saya merinding lagi. Membayangkan kesunyian dan kepekatan yang mungkin tercipta saat malam menyapa.
Tapi saya punya mimpi. Salah satunya saya bermimpi belajar ke luar negeri. Tidak nanggung-nanggung, saya ingin belajar ke Sorbonne, Perancis! Bisa dibayangkan, anak kampung mimpi belajar di universitas kelas dunia!?
Sekali lagi saya merinding. Mendengar pernyataan-pernyataan seperti itu selalu membuat saya merinding. Kali ini bukan karena ngeri, tapi karena saya merasakan kekuatan kata-katanya. Mimpi dan perwujudannya, mereka selalu berhasil membuat saya terpana.
Kalau saya yang serba tidak berkecukupan, yang tidak punya modal apa-apa untuk ke Paris selain mimpi saja bisa benar-benar sampai ke sana, maka saya yakin teman-teman mampu melakukan lebih baik dari yang saya lakukan. Ya, karena teman-teman punya lebih banyak hal yang dulu tidak saya miliki.
Saya terdiam. Berusaha mencerna kata-katanya. Itu persis perkataan yang sering dipetuahkan ibu saya. Beliau selalu bilang bahwa dengan segala macam fasilitas dan kemudahan, seharusnya generasi sekarang lebih mampu berkarya dan berprestasi. Seharusnya. Tapi kenyataan sering berkata lain. Ada saja anak yang serba berkecukupan tapi gagal dalam kehidupannya. Dan sekarang saya bisa menambahkan satu faktor penyebab lagi untuk mereka. Faktor itu adalah, “mereka tidak punya mimpi!”
so, they’re called dreams…
they’re the very first embryo of your success…
if you fail to dream, you fail to succeed…
that’s my version.