Posts Tagged ‘cerita’
Perempuan
Kemarin teman saya membeli buku yang menurut saya unik, judulnya Psikologi Perempuan. Saya pikir hanya laki-laki yang benar-benar ingin memahami perempuan saja yang mau repot-repot membaca buku seperti itu. So sweet sekali, beruntung orang yang jadi istrinya nanti, akan sangat dimengerti!
Tapi, belum-belum dia sudah protes.
“Kenapa buku ini tebel banget ya? 735 halaman? Apa aja coba yang ditulis?” tanyanya heran.
“Baca aja. Besok2 pinjem ya!” kata saya, tidak menjawab.
Membahas tentang perempuan memang tidak ada habisnya. Entah kenapa, sepertinya Allah memang memberikan karunia lebih bagi makhluknya yang satu ini: kompleksitas perasaan. Sebagai perempuan saya sendiri sering kesulitan mengekpresikan diri secara tepat supaya bisa dimengerti paling tidak oleh orang-orang disekitar saya. Sehingga saya yakin, akan menjadi tantangan besar bagi orang lain untuk memahami kami.
Dalam dunia pernikahan pun agaknya akan demikian. Kata orang-orang yang sudah mengalami, dalam pernikahan itu ada dua tantangan besar yaitu, keuangan dan komunikasi. Mungkin karena perbedaan dalam cara memproses informasi sehingga efek yang ditimbulkan pun berbeda. Perempuan memang cenderung lebih menggunakan perasaan sehingga mereka cenderung lebih sensitif. Ya, apalagi saat PMS. Tingkat sensitivitas perempuan itu bisa berkali-kali lipat jadinya. Kebiasaan saya adalah mendeteksi orang-orang PMS dan agak menghindar dari mereka. Ya, karena biasanya mereka jadi buas! Galak tak tertahankan, semua jadi salah!
Tapi, diluar semua dilemma terkait perempuan, tetap saja perempuan itu dimuliakan dalam islam. Kata Rasulullah, lelaki paling luar biasa sekaligus paling romantis yang saya tau, “Laki-laki yang baik adalah yang bersikap lembut terhadap istrinya” (^_^)
A Resume
This is not a typical night, at least that what I think.
This is one silent night in the mid-February, a phase where I stop running to take a little more oxygen to fill my lungs.
At this point, I realize….
I have lost my last grandma this month, just some days ago, and it really makes me feel like I’ve lost my fixed-holiday destination forever.
I came to her funeral, and seeing her face for the last time. Sooner or later, I will go to her place. We all will…
I saw her empty house for the last time. Silence is the one who will fill the place. Silence.
Along my way back, I kept my eyes wide open, trying hard to absorb the whole things before I really leave them behind.
***
I missed the New Year’s Eve, I had more important thing to do than just blowing the trumpet or seeing fireworks exploding above my head: my thesis.
Lately, I choose sleeping better than staying up celebrating something useless.
I’ve finished my thesis, last month, and I’m still in the euforia of celebrating it. OMG!
I celebrated my other birthday this month, instead of making me feel older, I feel much younger! You may say I’m crazy, I don’t care.
I received twenty roses, the nicest gift ever! I love the way they bloom and fall their petals down. So romantic.
I read some novels, my pleasure activities, and I can’t understand why I don’t fall asleep when I read them as I usually do when I read non-fiction books. Hfhf.
I tried to write some things down, like what I’m doing now. It’s absolutely not easy, ya, especially when we are exceeding our limit in everything…
But, at least I tried.
Arrghhh…
Kemarin saya melakukan hal yang sangat tidak keren!
Saat itu jam 14.45 WIB.
Setting lokasi: masjid SMA.
Setting waktu: beberapa saat setelah bel pulang berbunyi.
Saya ada janji jam 15.00 dengan beberapa adik kelas saya. Sebelum mereka datang, saya harap saya sudah selesai shalat ashar. Akhirnya saya pun mengambil air wudhu. Saat saya kembali, beberapa anak sudah shalat. Tumben, biasanya ada shalat jamaah. Pikir saya heran. Sayup-sayup saya mendengar adzan. Tanpa pikir panjang saya pun langsung shalat.
Kejanggalan terjadi saat si muadzin yang tidak lain dan tidak bukan adalah anak laki-laki entah kelas berapa yang ternyata sedang berdua dengan temannya itu mengulang adzannya sampai beberapa kali. Saya tertegun sendiri. Saya akhiri shalat ashar saya dengan was-was. Mereka sedang latihan adzan! Pantas tidak pakai TOA!
Oke. Masalahnya sekarang: apakah shalat (yang saya niatkan) ashar tadi sudah pada waktu yang benar??
Saya terdiam lama. Kalau kata adik2 kelas saya, GALAU.
Allah Maha Baik, sekitar 7 menit kemudian adzan berbunyi! Ya Rabb!
Dengan muadzin si anak yang tadi latihan berulang2 dan membuat saya shalat ashar duluan!
Ingin rasanya menghampiri si anak dan teriak: dek, klo latian adzan jangan mendekati waktu shalat ya!
Grrrr….
Setelah suara iqamat, saya berdiri kembali. Bergabung bersama jamaah shalat ashar yang lain. Saya pasti terlihat seperti orang yang mengerjakan shalat dzuhur 5 menit sebelum adzan ashar! Padahal kenyataannya saya shalat ashar 5 menit sebelum adzan ashar! Sungguh tidak keren!
melody
It’s been days left unwritten
It’s been hours remained frozen
It’s been stories kept silent
Now, here I am, in the middle of a slow silent night, trying to figure out things, trying to retell the untold stories
The first thing came to my mind was my students, in SMP 44
I still remember the first time I came to their classrooms, typical classrooms
I recognized their look, a question look
I also remember the first day I taught them, not really smooth
Then I remember how I got mad making them paying much attention to what I said, exhausting
The next slides were colorful, full of happiness, sadness, and care
I learned a lot
That being a teacher is not all about teaching things from the book
That being a teacher is more to educate them how to be a good smart person
That being a teacher is not always to teach, but to rise their curiosity to learn
That being a teacher is to realize that I can do something to help this kids learn
….
And I was torn a part when they cried hearing the news of my leaving
It was a torture in the beginning
And it also a torture in the end
Yet, there are times we can meet
We will meet someday in someplace better
*thanks for the experience we shared together, students
It’s not the end…
Kematian itu selalu membawa trauma tersendiri. Padahal ia adalah sebuah keniscayaan yang pasti terjadi. Entah kapan. Entah dengan cara seperti apa. Anehnya, meskipun kita semua meyakini keniscayaan itu, selalu saja kita merasa was-was, insecure.
Malam itu. Saya dihadapkan pada beberapa berita menyedihkan, sekaligus.
1# teman saya mendapat telpon. Seketika dia terdiam. “Bokapnya teman gua akan menjalani operasi jantung selama 24 jam besok pagi, “ katanya. “Prosentasi kegagalannya 97%, mohon doanya ya.” jelasnya kepada saya saat saya memandanginya dengan penuh tanda tanya.
Saya ikut terdiam. Operasi selama 24jam? Kemungkinan berhasil hanya 3%? Apa rasanya itu? Bagaimana perasaan keluarga yang menunggu diluar r.operasi? Saya kehilangan kata-kata.
2# jam 3.20 pagi. Giliran telpon saya yang berdering. Teman baik saya. Ibunya memang sedang di RS sejak 3 hari lalu dan terancam operasi. Saya agak gemetar menganggkat telpon. “Malam ini ibu sudah di transfer ke RSAL setelah ditolak di Harapan Kita. Sekarang beliau sedang istirahat, kondisinya lemah. Mudah-mudahan lusa sudah bisa dioperasi sebelum pendarahannya menyebar ke otak. Mohon doanya ya,” jelasnya lancar sebelum saya sempat bicara banyak. Seketika itu pula saya kehilangan selera tidur. “Doakan ibuku dalam shalatmu ya!” saya mengangguk, tak bisa bicara.
3# bincang-bincang sebelum tidur. Biasanya kami (saya dan teman sekamar saya) membicarakan hal yang lucu, tapi kali ini kami membicarakan kematian: trending topic hari ini. Diantara semua teman dekat saya, mungkin dialah yang pernah merasakan begitu dekatnya kematian. Ya, ayahnya meninggal setahun lalu.
Dia : Rasanya lebih ke shock. Terutama karena ayahku sudah sakit lumayan lama jadi aku sudah punya bayangan akan seperti ini.
Saya : Kamu gak sedih?
Dia : Sedih tapi lebih ke shock aja.
Saya tidak mengerti.
Saya : Aku gak pernah tau seperti apa nantinya kalau tiba saatnya aku berhadapan dengan kejadian seperti itu…
Dia : Semua mengalir begitu aja, gak bisa dirancang dari sekarang.
Saya : Iya sih. Hmmm…tapi kira2 aku jadi yang nangis atau yang ditangisin ya? Maksudku apa aku akan pergi duluan atau belakangan dibanding orang2 yang kusayang.
Dia : Itu kan rahasiaNya, yang jelas kita semua pasti menghadapinya.
Saya : Iya,, semua pasti menghadapinya. Hanya ada yang menghadapinya duluan seperti kamu dan ada yang masih menunggu waktu untuk berhadapan dengan kejadian semacam itu seperti aku.
Dia : Iya.
Saya membiarkannya tertidur. Masih memikirkan kejadian-kejadian hari ini, saya gelisah sendiri. Kematian: sungguh ia begitu dekat. Saya ingat dulu mentor saya pernah membicarakan hal ini. Dia menyuruh saya merancang kematian. Waktu itu saya merasa aneh, ada-ada saja kematian kok dirancang. Tapi lambat laun saya mengerti, merancang kematian sama pentingnya dengan merancang kehidupan.
“Jangan sampai adanya kamu sama saja dengan tidak adanya kamu. Artinya orang bahkan tidak merasa kehilangan saat kamu tidak ada. Itu artinya kamu bukan orang yang membawa manfaat bagi orang lain,” begitu katanya.
“Jangan sampai juga orang-orang justru senang saat kamu tidak ada. Karena itu artinya kamu adalah orang yang membawa keburukan bagi orang lain, naudzubillah..” tambahnya
Intinya, baik buruknya orang memang bisa dilihat dari cara dia meninggal. Jika ia meninggal dengan cara yang baik (khusnul khatimah) dan banyak orang baik yang merasa kehilagan atas kepergiannya, maka Insya Allah dia telah hidup dengan baik…
Maka disini tugas kita adalah selalu berusaha hidup dengan baik dan selalu berusaha menjaga diri dalam kebaikan, supaya jika datang malaikat izrail, yang kita tidak tahu kapan, kita tidak sedang melakukan keburukan. Satu hal lagi yang perlu diingat, hidup dengan baik itu bukan hanya baik bagi diri sendiri, tapi juga baik bagi banyak orang. Tentu saja, karena kita tidak hidup untuk diri sendiri…
Kalau mau mengutip dialog dalam novel 5cm, maka “Gue harus jadi orang yang bermanfaat. Gue pengen orang lain bisa bernapas lebih lega dengan adanya gue disitu. Titik.”
Buber
Buka bareng (Bubar) atau buka bersama (Buber) selalu menjadi agenda rutin selama ramadhan. Dalam pengamatan saya, banyaknya acara buber yang dihadiri seseorang akan sebanding dengan jam terbangnya di dunia nyata. Sebagai contoh, anak kuliah akan menghadiri buber setidaknya bersama teman-teman SD, SMP, SMA, OSIS, BEM, dan organisasi lainnya. Jadi setidaknya akan ada tidak kurang dari 6x acara buber yang harus dihadiri (belum lagi kalau organisasinya banyak, bisa sampe 10x!).
Bagi ayah saya hal itu tidak masuk akal karena terlalu berlebihan. Terlebih lagi ketika beliau menyadari bahwa biasanya dalam acara buber tiap orang akan memsan makanan sendiri dengan menu yang berbeda-beda. Dimana letak kebersamaannya? Lebih jauh, menurut ayah saya seharusnya biaya konsumsi ditanggung oleh inisiator acara buber-nya. Alasannya adalah karena dia yang menggagas maka dia seharusnya bersedia menanggung semua biaya-biaya (gawat deh, bisa2 gak ada yang mau jadi inisiator buber nih!).
Kadang saya gak tega juga terus-terusan buka puasa di luar rumah, tapi kadang ajakan teman begitu menggoda. Dengan label ‘kebersamaan karena sudah lama gak ketemu’ pun menjadi alasan logis untuk hadir dalam acara2 buber. Dulu saya merasa tidak masalah, tapi belakangan saya agak merasa bersalah. Pasalnya, adik saya pun sekarang ikut-ikutan sibuk buber. Saya ingat minggu lalu dia buber diluar rumah 4x dalam seminggu. Hasilnya, rumah sepi, makanan terabaikan, dan mama pun kurang senang…
“Itu sih namanya makan bersama. Mending bawa makan masing-masing aja dari rumah, trus dimakan bareng pas buka. Jadi namanya tetep sama: buka bareng!” ayah saya agak sewot karena bolak-balik mengantar adik saya buka bersama teman-temannya (dan bolak-balik memberi uang saku) padahal dirumah banyak makanan.
Adik saya tertawa kecil, tapi tetap berangkat ke rumah temannya untuk buber…
Plegmatis…
Segala sesuatu itu selalu dicipatakan berpasangan. Bahkan untuk teman kosan pun sudah ditakdirkan siapa orangnya. Ini tentang saya dan teman sekamar saya. Kadang saya tertawa sendiri membayangkan hari-hari yang kami lewati bersama. Unik.
Saya tahu betul kepribadian teman saya ini. Dia ini tipe plegmatis – melankolis. Dua sifat yang agak kontradiktif, tapi pemenangnya selalu saja sisi plegmatisnya. Dia itu mudah berdamai dengan segala hal, itu sisi positifnya.
Sementara saya sendiri seorang melankolis – koleris. Dua hal yang agak kontradiktif juga, tapi menurutnya saya cukup bisa membuatnya seimbang.
Masalahnya adalah saya sering tidak mengerti jalan pikirannya. Dia juga sering tidak mengerti jalan pikiran saya. Jika saya berpikir semua hal harus direncanakan dan dipastikan keberhasilannya, maka teman saya ini lebih suka membuat semua seperti apa adanya, dalam bahasa saya ‘nrimo’. Bagi saya hal itu kadang menggemaskan, begitu juga bagi dia, mungkin kadang saya ini mengesalkan baginya.
Contoh kecil, teman saya ini hobi sekali menunda pekerjaan. Saya pikir saya juga suka menunda tapi ternyata dia lebih suka lagi. hehe…dia tidak suka bergerak banyak, dia lebih suka menjadi suporter. Padahal saya ingin sekali bisa bergerak bersama dia dalam mengerjakan banyak hal.
See, kepribadian kami memang berbeda sehingga outputnya juga berbeda. Untungnya kami paham kondisi satu sama lain jadi bisa saling memaklumi. Komentar yang paling sering muncul dari mulut saya adalah,
“Kamu kok begitu sih?” atau, “Kamu enggak capek terus-terusan diem?” atau, “Kok kamu sabar banget sih, kan sebenernya kamu bisa melakukan sesuatu?”
dan jawaban yang paling sering dia gunakan adalah,
“Kamu tuh yang begitu, aku nyaman kok dengan kondisi ini.” atau, “Kok kamu gak bisa diem sih?” atau, “Kupikir gak ada gunanya memperjuangkan hal yang aku tau sulit. Orang plegmatis tuh selalu berusaha menghindari konflik.”
Kalau sudah begini saya cuma bisa diam.
“Aku gak ngerti jalan pikiran orang plegmatis.”
Dia juga diam.
“Aku juga gak ngerti jalan pikiran orang koleris.”
Sekarang saya dan dia mengerti kenapa ada banyak pasangan yang cek-cok. Mungkin salah satu penyebabnya adalah perbedaan kepribadian yang tidak diiringi dengan kelapangan dada untuk menerima pasangannya apa adanya. Kami sering tertawa sendiri mengenai hal ini. Sekarang kalau saya melihat dia melakukan hal-hal yang tidak masuk akal bagi saya, saya akan langsung bergumam, “Kamu bener-bener plegmatis ya ternyata,,hee”
Dan biasanya dia akan cemberut kecil kemudian melanjutkan aktivitas plegmatis-nya.
to my roomate: gak keberatan kan ya kamu jadi artis di tulisanku selama beberapa waktu ke depan? hehe
Lotion non-Anti Nyamuk
Saya memang tidak pernah benar-benar ingin tinggal di tempat kost saya yang sekarang karena beberapa alasan. Alhasil saya selalu membawa barang seminim mungkin karena saya tahu saya pasti kembali ke rumah setiap kali ada kesempatan. Awalnya saya malah dengan brutal memasukkan tas saya beserta isinya ke dalam lemari dengan alasan ajaib bahwa hal itu memudahkan saya untuk selalu pulang ke rumah. Ya, saya jadi tidak perlu menata baju ke dalam tas lagi, tinggal ambil tasnya dan saya langsung berangkat pulang. Pragmatis sekali saya ini. Teman sekamar saya pun protes melihat tingkah saya ini dan akhirnya saya terpaksa menata baju-baju saya di lemari…
Teman saya sudah banyak protes karena kelakuan-kelakuan saya yang mungkin menurutnya agak ganjil. Saya tidak punya kotak mandi, tidak bawa handuk yang besar, tidak punya banyak baju di lemari, tidak membawa sisir, dsb. Satu lagi akibat keengganan saya berkemas dengan seksama karena tidak benar-benar ingin kos. Saya tidak membawa lotion. Saat saya membutuhkannya karena merasa udara di kamar terlalu kering, saya bertanya pada teman saya..
Saya : Pip, bawa lotion gak? Minta dong. Lupa bawa nih.
Pip : Ada tuh di tas. Autan, ambil aja.
Saya : Itu kan lotion anti nyamukkkk…gak ada lotion yang normal?
Pip : Loh itu bukan lotion ya?
Saya : Mmmm…lotion sih, tapi aku butuh yang bukan autan, bukan anti nyamuk tapi pelembab >_<
Pip : Wah, aku gak pake lotion yang begitu er. hihi…
Saya pun menelan kepahitan, mempertimbangkan apakah autan juga bisa disamakan dengan lotion lain yang tidak membunuh nyamuk.
Jangan-jangan autan lebih fungsional dibanding lotion lain karena bisa menghindarkan kita dari nyamuk. Tapi tetap saja saya ragu memberinya kedudukan yang setara dengan lotion non-anti nyamuk.
Rice Cooker: A Magic Pan!
Saya tidak pernah menghargai rice cooker sebesar ini sebelumnya. Dulu penghargaan saya kepada rice cooker hanya sebatas rasa terima kasih karena benda bulat mirip panci itu mampu membuat beras menjadi nasi tanpa meminta saya melalui dua proses: mengaroni dan menanak nasi. Sekarang rasa penghargaan itu berubah menjadi sebuah kekaguman yang tidak terkira (versi lebai). Bagaimana tidak, ternyata rice cooker itu sangat multifungsi. Mulai dari memasak nasi, merebus air, membuat mie instan, memasak sayur, nasi goreng, dan mungkin bisa untuk memanggang roti!
Saya memang belum mencoba semua hal itu. Tapi saya yakin benda bulat ajaib mirip panci itu mampu melakukan banyak hal. Ini benar-benar sebuah fakta baru untuk saya. Yah, kadang kita memang harus berada dalam kondisi terdesak untuk melakukan hal-hal besar. Pertanyaannya: Apakah memasak nasi goreng dengan rice cooker itu termasuk hal besar? Wallahulambissawab.
Situ Oke?
Nasihat seorang bapak kepada anak lelakinnya: “Kalau cari istri tuh ya, kalau cantik harus dikasih makan, kalau gak cantik juga harus dikasih makan. Jadi ya mending cari yang cantik aja, “
Itu adalah kutipan dari ucapan ayah pasangan teman saya (nah lo, jangan bingung ya).
“Am I that bad?” itu adalah pertanyaan yang muncul di kepala setiap wanita yang mendengar ayah pasangannya menasihatkan hal itu kepada anak lelakinya. Meskipun konteksnya bercanda. Meskipun si ayah tidak berbicara di depan sang wanita. Meskipun si wanita hanya tahu pernyataan itu lewat mulut anaknya. Saya sadar betul, efek psikologisnya sangat dalam dan panjang. Wanita memang cenderung lebih sensitive menanggapi segala hal tentang dirinya. Apalagi jika judgement statement itu diberikan oleh orang yang memiliki pengaruh dalam hatinya, ungkapan sesederhana apapun akan terasa kompleks jika diolah oleh otak wanita. Jadi wajar saja teman saya merasa buruk setelah mendengar bahwa ayah pasangannya itu bicara seperti itu pada anaknya setelah dia pulang dari rumah pasangannya yang katanya saat dia berkunjung dia memang baru pulang dari pasar sehingga mungkin penampilannya kurang berkesan (bingung baca kalimat sendiri…kenapa kata ganti laki-laki dan perempuan dalam bahasa indonesi tidak jelas begini? Kalimat saya jadi sulit dicerna!).
“You are not that bad. Trust me. I don’t like to say this, but I think you’re nice, “ kata saya menghiburnya.
“Jadi gue gak seburuk itu kan? Meskipun emang gak cantik banget, tapi kok ya…” katanya dengan suara makin menghilang.
“Iya, meskipun gak secantik Cut Tari, tapi lo cantik kok. Beneran!” kata saya akhirnya. Dia tersenyum senang karena akhirnya saya memujinya! Hadeh, gak lagi-lagi deh bikin dia ge-er.
**
Nyatanya ada saja orang yang menjadikan penampilan fisik sebagai pertimbangan utama untuk mencari pasangan. Seperti si bapak tadi. Istrinya memang cantik luar biasa. Tapi apa itu berarti menantunya juga harus secantik istrinya? Toh yang akan menikah dengan si wanita kan anaknya bukan si bapak itu! Saya jadi ikut esmosi mendengar cerita teman saya. Bukan karena teman saya tidak cantik, bukan karena saya juga tidak cantik! Kami cantik! (ngaku-ngaku, udah percaya ajalah)
Ini adalah masalah kedewasaan. Menurut saya si bapak ini belum benar-benar dewasa jika dia mensyaratkan seorang menantu yang seperti itu. Memang sih, itu penilaian subjektif saya. Tapi menurut saya si bapak ini seharusnya melihat lebih jauh, mengenal lebih dalam dan bukannya hanya menilai dari luarnya saja. Toh cantik itu relative, menurut saya teman saya itu cantik. Mungkin bukan cantik seperti yang disukai si bapak ini, tapi ini masalah selera, bung! Saya curiga jangan-jangan si bapak yang katanya orang berpendidikan ini tidak pernah mendengar istilah ‘Don’t judge a book by its cover’. Sungguh kasihan.
Saya tidak menyalahkan orang yang menjadikan pertimbangan fisik sebagai prasyarat utama. Islam adalah agama yang menghargai fitrah manusia. Buktinya hadis dari Abu Hurairah berikut ini:
“Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”
Yah buat wanita, hadisnya masih berlaku kok. Tinggal diganti aja subjeknya jadi “Laki-laki itu…”
Teman saya yang lain pernah secara serampangan bilang bahwa itu adalah urutan baku dari Rasulullah: paras-harta-keturunan-agama. Dia lupa bahwa hadis itu terdiri dari dua kalimat, dia hanya baca kalimat pertama. Lagipula hadis itu mengungkap kebiasaan, bukan aturan baku. Kalimat kedualah intisarinya.
Yah, sekali lagi, itu adalah hak pribadi tiap orang untuk menentukan seperti apa orang yang ingin dinikahinya. Teman saya yang lain lagi bilang, “Buatlah kriteria untuk menghindari menolak orang yang gak sesuai kriteria”, sungguh nasihat yang bijak. Tapi ya kalau memang dia (entah siapa) hanya bisa hidup dengan orang yang cantik/tampan (terlepas dari seperti apa agama dan sikapnya) yah silahkan saja. Itu hak setiap orang.
Tapi kalau ada tuntunan (hadis diatas), kenapa gak dipake? ^^v

