Live, Love, Learn!

veritas^^

Archive for the ‘Ideas’ Category

PILIHAN

leave a comment »

Hidup itu merupakan serangkaian proses memilih dan menjalani konsekuensi-konsekuensi dari pilihan yang telah dilakukan. Setidaknya itu yang saya pikirkan. Namun hidup itu sendiri bukanlah sebuah pilihan. Hidup adalah kewajiban. Nah, ada yang tidak setuju?

Tadi siang teman saya memberikan kultum yang judulnya ia kutip dari sebuah majalah. Saya tidak benar-benar ingat judulnya, maklum malas mencatat kadang menumpulkan ingatan (^^v). Kurang lebih bunyinya seperti ini “Pilih yang dapat kamu pilih, jalani apa yang menjadi kewajibanmu dengan tersenyum”. Menurut saya itu judul yang menarik. Ya, menarik. Karena selama ini kita sering tidak sadar mana yang merupakan pilihan dan mana yang merupakan kewajiban. Kita sering mengaburkan sendiri pilihan dan kewajiban kita. Sehingga terkadang kita menyalahkan takdir Allah.

Sepertinya sedikit ilustrasi bisa membuat semuanya lebih jelas.Oke, ilustrasinya begini. Ada seorang pemabuk yang teler berat di siang hari di tempat  umum. Ketika ditegur dia malah bilang, “Allah sudah menakdirkan saya untuk seperti ini, untuk mabuk begini. Yah, beginilah takdir Allah untuk saya. Saya sih terima aja.”

Nah, kalau di zaman kekhalifahan maka orang ini diberi hukuman dua kali. Pertama, karena dia mabuk. Kedua, karena dia menghina Allah. Tentu saja, dia ini lancang sekali. Dia membuat pilihan yang tidak baik dan dia menyalahkan Allah dengan bilang bahwa itu takdir Allah. Padahal, itu pilihannya sendiri!

Saya jadi ingat murid di tempat PPL saya. Waktu itu saya sedang bertugas di meja piket, mencatat murid-murid yang datang terlambat (kerjaan rutin mahasiswa PPL). Ada satu murid yang entah kenapa sering sekali terlambat. Ada percakapan menarik antara wakasek dengan si murid perempuan, sebut saja namanya Bunga.

“Bunga, kamu telat lagi. Kenapa kamu telat?” tanya pak wakasek seraya menyambut uluran tangan si anak.

“Iya pak. Saya kesiangan pak.” Jawab si bunga gelisah.

“Kenapa kamu kesiangan?” si pak wakasek mencoba menginterogasi.

“Hmm…Kenapa ya pak? Gak tau pak.” si anak kebingungan.

“Loh kok gak tau?”

“Iya pak. Saya kayaknya kesiangan karena takdir pak.”

Waktu itu saya tidak kuasa menahan tawa. Cekikikan sendiri karena betapa kreatif dan gak nyambungnya anak ini. Coba saja itu, kesiangan kok karena takdir. Harusnya dia jawab kegiatannya di malam hari yang membuat dia jadi sulit bangun pagi. Itu sungguh lucu buat saya. It was silly!

Tapi, terkadang kita juga demikian kan? Terkadang kita dengan mudahnya menyebut kata takdir untuk menjelaskan keburukan yang menimpa kita. Tapi kita tidak pernah menyebutkan takdir ketika kita mendapat kesuksesan. Mungkin itu contoh nyata bahwa manusia itu sering lupa dan tidak bersyukur. Menyalahkan sesuatu di luar dirinya untuk keburukan yang dia dapat dan memuji diri sendiri untuk kesuksesan yang datang. Padahal semuanya telah tertulis di lauhul mahfuz. Tidak ada satupun kejadian yang luput dari pengamatanNya. Tidak ada satupun kejadian yang belum ditulis.

Kita memang tidak pernah tau apa yang Allah takdirkan untuk kita. Tapi Allah memberikan kita kesempatan untuk membuat pilihan. Maka, takdir adalah hasil akhir dari pilihan dan serangkaian usaha terbaik yang kita lakukan.

Menyambung ke tema awal, pilih yang dapat kita pilih dan jalani kewajiban kita dengan senyuman. Maka mana yang menjadi pilihan dan mana kewajiban kita? Tentu saja pilihan adalah sesuatu yang kita pilih dengan sadar sementara kewajiban adalah sesuatu yang tidak mungkin kita pungkiri.

Semoga bisa dicerna ya maksudnya. Hehe.

Written by erni

April 16, 2011 at 09:32 p04

Posted in Ideas, Those Kiddos

Tagged with ,

Prinsip Maturitas

leave a comment »

Kedewasaan adalah hal yang terdengar begitu menyenangkan. Saya ingat dulu saat saya masih di usia belasan saya selalu berharap saya cepat dewasa. Dalam pandangan saya, menjadi dewasa itu membanggakan. Orang dewasa terlihat kuat, pintar, dan independen. Saya sungguh tidak tahu bahwa semua itu hanya refleksi yang saya anggap ada pada diri orang dewasa. Nyatanya tidak banyak orang dewasa yang seperti itu. Yang banyak saya temui justru orang dewasa yang perilakunya masih seperti anak-anak. Mungkin termasuk diri saya sendiri. Saya sering bertanya-tanya, apakah saya sudah bisa dikatakan dewasa? Seperti apa sebenarnya orang dewasa itu? Apakah dewasa berarti tidak pernah menangis? Atau tidak pernah nonton Spongebob? Atau jangan-jangan dewasa berarti tidak pernah makan choki-choki? Well, saya jadi merasa tidak dewasa!

Mungkin ada yang pernah dengar  tentang prinsip maturitas. Menurut  dr. Muadz, Sp.KJ, seseorang bisa disebut dewasa atau matang kalau :

  1. Berpegang pada reality principles
  2. Independent
  3. Correct and correctable
  4. Understand and understable

Kata sahabat saya yang belakangan ini sedang mendalami schizophrenia (emang iya? Pokoknya dia tertarik masalah ini deh!): “Pada dasarnya, setiap orang, pada saat mengalami tekanan/masalah/stress, akan mengalami regresi (kemunduran) pada satu atau beberapa sisi maturitasnya. Entah itu tiba – tiba menjadi tidak mau mengerti orang lain atau keadaan, tidak mau meluruskan kesalahan orang lain atau tidak mau disalahkan (dengan kata lain tidak mau diluruskan), atau tiba – tiba menjadi sangat bergantung pada seseorang, dan pada tingkat yang paling parah tidak lagi bisa bertahan dalam reality principles (mengalami gangguan daya nilai realitas).

Maka apakah kita telah menjadi orang yang bisa dimengerti dan mau mengerti orang lain?

Apakah kita telah menjadi orang yang mau mengakui kesalahan jika salah dan mau diluruskan?

Dan apakah kita bisa hidup tanpa harus banyak bergantung pada orang lain? Apakah kita telah punya kepercayaan diri yang cukup untuk mengerti bahwa kita cukup mampu melakukan banyak hal tanpa harus menunggu komando orang lain?

Dan yang terpenting, apakah kita memiliki reality principle yang benar? Apakah kebenaran dan keyakinan yang kita percayai adalah kebenaran yang bisa memang benar dan bukan yang kita ada-adakan?

Jika semua jawaban atas pertanyaan di atas adalah positif, maka (Insya Allah) kita bisa dikatakan dewasa berdasarkan prinsip maturitas di atas. Jika belum, maka ya itu pilihan, apakah kita mau berproses menjadi dewasa atau tetap bertahan menjadi anak-anak dengan fisik yang tidak lagi imut!

Ya, pada akhirnya itu hanya satu teori. Saya kadang suka sekali membela diri dengan banyak alasan. Salah satu pembelaan diri saya untuk masalah yang satu ini adalah: “Manusia punya beragam dimensi. Ada dimensi biologis, psikis, intelegensi, sosial, dan sebagainya. Agaknya setiap dimensi itu tidak tumbuh secara bersamaan. Mungkin saja kita dewasa pada sisi yang satu tapi belum pada sisi yang lain. Itu tidak menjadikan kita tidak dewasa, hanya belum sepenuhnya dewasa.”

^^v

Dan karena kedewasaan adalah sebuah proses, maka bagi saya ia adalah proses yang tidak pernah berhenti.

Written by erni

October 4, 2010 at 09:32 p10

Posted in Ideas, Private

Tagged with , , ,

The Questions

leave a comment »

1) Sebutkan 3 hal yang paling berharga dalam hidupmu?

2) Apakah yang paling mahal di dunia ini?

3) Bagaimana caranya untuk mendapatkan hati yang tenang?

Tiga pertanyaan itu selalu membuat saya terdiam. Dua kali saya mendengar pertanyaan itu, dua kali juga saya terdiam. Rasanya saya butuh merenung lama untuk memikirkan jawabannya.

Saya suka jawaban teman saya. Katanya 3 hal yang paling disukaianya adalah Allah, Rasulullah, dan jihad di jalanNya. Sementara saya merasa ada lebih dari tiga hal yang berharga dalam hidup saya: Allah dan RasulNya, keluarga, sahabat, dan kesungguhan yang disertai keikhlasan.

Jawaban untuk pertanyaan kedua. Kata teman saya yang paling mahal di dunia ini adalah hati yang tenang. Sementara menurut saya yang paling mahal adalah kebijaksanaan. Ya, kemampuan untuk menjadi orang baik yang membaikkan dengan cara yang baik.

Pertanyaan ketiga, saya sepakat dengan teman saya. Hati yang tenang bisa didapat dengan selalu mengingat-Nya. Mengingat bahwasannya ada kekuatan lain yang mengatur hidup kita. Bahwa semua akan baik-baik saja selama kita bersamaNya.

God + Me = Enough

Written by erni

October 4, 2010 at 09:32 p10

Posted in Ideas

Tagged with

Buber

leave a comment »

Buka bareng (Bubar) atau buka bersama (Buber) selalu menjadi agenda rutin selama ramadhan. Dalam pengamatan saya, banyaknya acara buber yang dihadiri seseorang akan sebanding dengan jam terbangnya di dunia nyata. Sebagai contoh, anak kuliah akan menghadiri buber setidaknya bersama teman-teman SD, SMP, SMA, OSIS, BEM, dan organisasi lainnya. Jadi setidaknya akan ada tidak kurang dari 6x acara buber yang harus dihadiri (belum lagi kalau organisasinya banyak, bisa sampe 10x!).

Bagi ayah saya hal itu tidak masuk akal karena terlalu berlebihan. Terlebih lagi ketika beliau menyadari bahwa biasanya dalam acara buber tiap orang akan memsan makanan sendiri dengan menu yang berbeda-beda. Dimana letak kebersamaannya? Lebih jauh, menurut ayah saya seharusnya biaya konsumsi ditanggung oleh inisiator acara buber-nya. Alasannya adalah karena dia yang menggagas maka dia seharusnya bersedia menanggung semua biaya-biaya (gawat deh, bisa2 gak ada yang mau jadi inisiator buber nih!).

Kadang saya gak tega juga terus-terusan buka puasa di luar rumah, tapi kadang ajakan teman begitu menggoda. Dengan label ‘kebersamaan karena sudah lama gak ketemu’ pun menjadi alasan logis untuk hadir dalam acara2 buber. Dulu saya merasa tidak masalah, tapi belakangan saya agak merasa bersalah. Pasalnya, adik saya pun sekarang ikut-ikutan sibuk buber. Saya ingat minggu lalu dia buber diluar rumah 4x dalam seminggu. Hasilnya, rumah sepi, makanan terabaikan, dan mama pun kurang senang…

Itu sih namanya makan bersama. Mending bawa makan masing-masing aja dari rumah, trus dimakan bareng pas buka. Jadi namanya tetep sama: buka bareng!” ayah saya agak sewot karena bolak-balik mengantar adik saya buka bersama teman-temannya (dan bolak-balik memberi uang saku) padahal dirumah banyak makanan.

Adik saya tertawa kecil, tapi tetap berangkat ke rumah temannya untuk buber…

Written by erni

September 9, 2010 at 09:32 p09

Posted in Ideas

Tagged with

Pesan untuk Kita

leave a comment »

Suatu hari seorang bapak tua hendak menumpang bus. Pada saat ia menginjakkankakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Lalu pintu tertutup dan bus mulai bergerak, sehingga ia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi.

Lalu si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan
melemparkannya keluar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus melihat kejadian itu, dan bertanya kepada si bapak tua, “Aku memperhatikan apa yang Anda lakukan Pak. Mengapa Anda melempakan sepatu Anda yang sebelah juga ?”

Si bapak tua menjawab, “Supaya siapapun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.”

Written by erni

July 13, 2010 at 09:32 p07

Posted in Ideas

Tagged with , , ,

Going the Extra Miles

leave a comment »

The Long Road

Akhi, tahukah kalian apa yang membuat orang sukses berbeda dengan orang yang biasa?” tanya Ustad Salman retoris.

“Menurut buku yang sedang saya baca, ada dua hal yang paling penting dalam mempersiapkan diri untuk sukses, yaitu (pertama) going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata. Kalau orang belajar 1 jam, dia akan belajar 5 jam, kalau orang berlari 2 kilo, dia akan berlari 3 kilo. Kalau orang menyerah di detik ke 10, dia tidak akan menyerah sampai detik ke 20. Selalu berusaha meningkatkan diri lebih dari orang biasa. Karena itu mari kita budayakan going the extra miles, lebihkan usaha, waktu, upaya, tekad, dan sebagainya dari orang lain. Maka kalian akan sukses,” katanya sambil menjentikkan jari.

“Resep lainnya adalah tidak pernah mengizinkan diri kalian dipengaruhi oleh unsur diluar diri kalian. Oleh siapapun, apapun, dan suasana bagaimanapun. Artinya, jangan mau sedih, marah, kecewa, atau takut karena faktor luar. Kalianlah yang berkuasa terhadap diri kalian sendiri, jangan serahkan kekuasaan kepada orang lain. Orang boleh menodong senapan, tapi kalian punya pilihan, untuk takut atau tetap tegar. Kalian punya pilihan di lapisan diri kalian paling dalam, dan itu tidak ada hubungannya dengan pengaruh luar,” katanya lebih bersemangat lagi.

“Jadi pilihlah suasana hati kalian, dalam situasi paling kacau sekalipun. Karena kalianlah master dan penguasa hati kalian. Dan hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya adalah hati orang sukses,” tandasnya dengan mata berkilat-kilat.

[Negeri 5 Menara Pg.107-8]

Written by erni

July 1, 2010 at 09:32 p07

Posted in Ideas

Tagged with , ,

50 Things Every Boy Should Know

with 2 comments

1.) We check our phones every hour to see if you have replied to our texts, then worry if you haven’t.

2.) We do not care if 50,000 other guys declared their love for us, for if you never do it none of it matters.

3.) You will be classed in our ‘Hate’ list if you forget our birthday.

4.) When we say everything is ‘fine’, it generally means everything is absolutely horrible and we are on the brink of falling to pieces.

5.) If we see you slow dancing with another girl, expect fates worse than death.

6.) We don’t care what our friends think of you, but we do care what your friends think of us.

7.) Our favorite part of the YM convo is at the end when you say good bye, because that’s the part you say you love us.

8.) EVERYTHING said to our friends will be told to us. Guaranteed.

9.) We like it when you are protective of us. It makes us feel special.

10.) Understand that even if she’s your best friend, it makes us feel insecure when you treat her sweeter than us.

11.) We mind it when you complain on having to wait for us after class.

12.) We hate feeling as if we are just like any other ordinary girl.

13.) We have mood swings. Get over it already.

14.) When we come back from a holiday and brag about how awesome it was, during the entire time there we were probably thinking about you. A lot.

15.) When your friend says something bad about us, it means the world to us if you come to our defense.

16.) Please don’t stand 384931491329403 feet away from us. Even if we are scary.

17.) Understand that we can get very moody during THAT TIME of the month.

18.) We hate it when we share something and all you reply is OK.

19.) We will move mountains on our timetable if it means seeing you.

20.) NEVER insult our friends. It hurts more than you can possibly know.

21.) If a girl openly flirts with you, we love it when you tell them your heart’s already taken.

22.) If you want to know something about us, ask our best friend.

23.) We actually freak out on what to do during holidays like Valentines Day.

24.) When you say you’ll call, actually do it. Don’t leave us hanging.

25.) Cheesy pick-up lines might not work, but they can always make us laugh.

26.) We don’t want to hear how incredibly hot your ex-girlfriend/neighbor/best gal friend is.

27.) We secretly hope your mom loves us.

28.) We hate it when you don’t tell us your ‘invisible’ in our chat window.

29.) When we are mad at you, we aren’t actually mad. We just want you to apologize so we can start showing you that we like you again.

30.) Some of our friends know EVERYTHING about us.

31.) When you treat us badly, beware of our girlfriends.

32.) We hate it when the song you pick as “ours” was the song you and your ex-girlfriend used to sing to.

33.) Yes, you might be the reason we failed that Math test.

34.) We don’t care about what we talk about, just as long as we have your attention for a few minutes.

35.) Though we don’t show it, reading other girls post sweet comments on your page is like a bullet to the heart.

36.) Of course, we do believe the crap we read in magazines.

37.) We love it when you not only watch girly movies with us, but you actually pretend to enjoy them.

38.) We compare every other guy to you, and you always come out best.

39.) We love it when you fight for us.

40.) Don’t brag about other girls liking you, it just makes us insecure.

41.) Silent Treatment + Short Answers + Not Smiling or Laughing + Evil Looks = YOU DID SOMETHING WRONG.

42.) We over-analyze everything.

43.) We over-react to everything.

44.) We worry when your messages don’t include enough smilies.

45.) Always tell us the truth. We’ll find out sooner or later anyway.

46.) We don’t care if you couldn’t come on that date because of the most embarrassing reason in the world, just don’t lie to us.

47.) You will never understand how much it means when you introduce us to your family.

48.) We secretly like it when you call us “yours”.

49.) Be on time. We will think you don’t care if you’re not on time at a certain place.

50.) And for the love of God, just shut up about how beautiful and sexy other girls are. We hate hearing these kind of things. You know we like you and the fact you do this despite you knowing how we feel is just evil.

Note: This is a repost from a blogger in Tumblr which she also reposted. I do not claim that I have written this, I simply adored these facts and thus sharing them on WordPress

Written by erni

June 29, 2010 at 09:32 p06

Posted in Ideas, Private

Tagged with ,

SMS teman saya

with 2 comments

Sesuai posting sebelumnya, saya mau nyalin SMS teman saya (tanpa izin, karena kalo izin pasti jadi panjang urusannya karena saya harus bujuk2 dia dulu). Pagi-pagi, dia kirim SMS yang bagus ini. Sepertinya semalam dia baru selesai bertapa ^^

Semangat Pagi!

Pikiran tentang nikah yang kita obrolin kemaren (padahal udah lama-red.) ternyata itu wajar. Kurasa itu cuma bagian dari demamnya wanita yang panik karena liat undangan kawin dari temen. Plus rasa pengen karena liat indahnya pacaran setelah menikah. Setidaknya, itu alasanku. Alasanmu bisa beda lagi. Kemarin aku sedikit berpikir keras, apa mauku dan apa yang bisa, setidaknya, meredakan demam itu. Kupikir aku harus punya target. Dimana aku siap dan gak sembarangan. Bisa memutuskan dengan matang dan punya arah yang jelas.

Kadang saat aku punya pertanyaan aku suka lupa kalo Allah itu mendengar aku. Dan aku cuma bisa meminta sama Dia. Yowes, skarang aku fokus sama target jangka pendek dulu untuk melangkah ke target jangka panjang :)

Written by erni

June 27, 2010 at 09:32 p06

Posted in Friends, Ideas

Tagged with ,

4,5 tahun

leave a comment »

“Boleh gak aku lulus 4,5 tahun?” teman saya bertanya.

Saya terhenyak, Hei ada apa ini? sementara saya mau lulus 3,5 tahun tapi dia malah mau 4,5 tahun! “Kenapa mau 4,5 tahun?” tanya saya akhirnya.

“Panjang ceritanya. Singkatnya karena aku berpikir masih banyak hal yang harus dibenahi di kampus.”

Saya dan teman saya yang lain terdiam. Menunggu penjelasan lain yang lebih menjelaskan. Dan diapun bercerita, panjang, terburu-buru namun tak mengurangi kejelasan maknanya. Seketika saya pun merasa, “Bangsa ini membutuhkan banyak orang seperti dia!”

Ya, teman saya ini berniat mengorbankan masa studinya karena dia punya visi. Punya cita-cita. “Aku mau meninggalkan kampus dengan tenang!” begitu katanya. Dengan tenang karena telah berbuat sesuatu yang baik dan membaikkan bagi kampusnya. Bukan hal mudah. Ya, mengubah sistem memang tidak pernah mudah.

Selama ini dia berkecimpung dalam dunia perpolitikan kampus. Teman saya ini memang mengambil peran yang cukup signifikan dalam ranah perpolitikan kampusnya. Menurutnya selama beberapa tahun belakangan ini mahasiswa sangat tidak solid menghadapi beragam ketidakbijaksanaan kebijakan kampus yang sebenarnya sangat tidak populer. Sebut saja BOP Berkeadilan yang kurang sosialisasi dan sederet kebijakan lain yang tidak berpihak pada mahasiswa. Monetisasi pendidikan, sesuatu yang saya sendiri juga benci setengah mati, telah terjadi dengan jelas dimana2 tanpa pernah ditindaklanjuti oleh mahasiswanya sendiri. Seakan mereka tidak keberatan dengan hal itu. Solusinya, jika semua mahasiswa sudah pragmatis begitu, adalah mengerahkan seluruh lini organisasi formal kampus untuk menyatukan suara menentang kebijakan-kebijakan yang sangat tidak bijak itu. Sekali lagi, itu bukan hal mudah. Ya, terutama jika dipadukan dengan kewajiban akademis, kebutuhan dana untuk membayar dana kuliah, dan tuntutan orang tua untuk lulus cepat.

Sama seperti teman saya ini yang dipikirannya berkecamuk banyak hal, benturan sisi idealis dan pragmatis yang membuat dirinya gamang dan tertekan. Saya tidak menyalahkannya. Semua orang pasti gamang menghadapi pilihan seperti itu. Antara keinginan pribadi untuk lulus cepat dan bertahan lebih lama di kampus untuk memperjuangkan idealismenya. Mana yang harus didahulukan? Akankah idealisme itu bukan cuma sekedar gema yang berbunyi sesaat yang akan hilang ditelan waktu?

“Jadi menurut kalian gimana?” tanyanya pada akhirnya…pertanyaan sulit.

Kami memberi masukan dan saran sesuai kemampuan kami memahami ceritanya. Saya yakin dia tahu konsekuensi dari semua tindakannya dan saya tahu betul dia bukan orang yang gegabah. Ya, saya percaya padanya. Apapun yang dia putuskan saya pastikan dia mendapat dukungan saya sepenuhnya.

Karena Tuhan tidak akan memberikan kita impian tanpa kemampuan untuk mewujudkannya, kawan.

Karena orang yang paling merugi adalah orang yang seumur hidupnya tidak pernah mengerahkan kemampuan maksimalnya, sayang.

Karena aku tahu kamu bukan orang yang egois, yang ingin bermanfaat hanya untuk diri sendiri…iya kan?

So, plan it well and make a move! We set you free, buddy!

Written by erni

June 25, 2010 at 09:32 p06

Posted in Friends, Ideas

Tagged with , , ,

Juz 30

with 2 comments

Malam ini saya terharu melihat adik saya tertidur sambil memengang Juz 30.

Tadi sore dia protes ke saya, “Itu kenapa Juz 28-30 ditaroh situ?” menunjuk buku kecil berisi Juz 28-30. Dia agak reseh memang kalau mejanya saya acak-acak walau cuma sedikit.

“Kenapa? Lagi dibaca.” jawab saya singkat.

“Baca Al-Qur’an aja. Repot banget sih.”

“Ih, bawel deh. Lagi mau ngafalin tauk.” Saya jadi cemberut ke dia.

Tiba-tiba dia terlihat senang sekaligus lega. “Oh, mbak ngafalin juga?”

Sekarang saya yang kaget, “Lha iya lah, masa afalan dari jaman SD gak nambah2. Ini baru mau mulai lagi.”

“Ah, aku juga mau ngafalin,,,tapi gak ada temennya. Males kalo ngafalin gak ada yang ngetes.” katanya lirih.

Saya terharu. Subhanallah. Saya gak pernah tau dia punya niat sebaik itu. Saya tersenyum, “Kamu mau ngafalin juga? Yaudah, nanti mba Erni yang ngetes deh ya. Mau ngafalin yang mana?”

“Juz 30. Nanti baru lanjut yang lain. Katanya kan ngafalin Qur’an itu baik ya?” tanyanya polos.

Saya mengangguk, “Iya lah. Kan kalo shalat juga baca ayat Qur’an terus kalo kamu hafal kan artinya kamu jadi penjaga…penjaga kemurnian Qur’an. Hebat tuh!”

Dia mengangguk. “Iya. Kata kak Dewi orang yang Hafidz itu bisa memberi syafaat ke 5 orang loh.”

“Oh ya? Kamu mau jadi Hafidzah?” tanya saya.

“Insya Allah”

“Kalo gitu mba Erni daftar ya, penerina syafaat. Hehe…”

“Huuu….dasar!”

###

Dan, melihatnya tertidur sambil menggenggam Juz 30 membuat saya sadar, dia tidak main2. Baiklah, kamu saya tes besok ya de’! ;)

Memalukan kalau saya kalah semangat dari anak kecil!

Written by erni

June 20, 2010 at 09:32 p06

Posted in Ideas, Private

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 115 other followers