Live, Love, Learn!

veritas^^

Archive for the ‘Felony’ Category

Lucu Sekali!

leave a comment »

Bukankah ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita tertawa? Bukankah ada banyak orang yang cukup lucu untuk ditertawakan?

 

Seperti seseorang yang selalu melupakan sesuatu yang telah dia ucapkan atau lakukan sehingga kita kesulitan untuk berkomunikasi dengannya secara NORMAL.

Seperti lulusan luar negeri yang tidak mampu berpikir secara OBJEKTIF.

Seperti atasan yang menutup pintu diskusi ketika dia bad mood, sehingga terkesan sangat CHILDISH.

Seperti orang yang selalu mengomentari orang lain tapi tidak pernah BERKACA.

Seperti pendidik yang kurang punya manner sehingga terkesan UNEDUCATED.

Seperti seorang wanita yang entah kenapa punya hobi KOMPLAIN dan MARAH2.

 

Bukankah mereka lucu (dan menyedihkan)?

Semoga Allah melindungi kita dari orang-orang dan sifat-sifat seperti di atas. AMIN

Written by erni

May 8, 2012 at 09:32 p05

Posted in Felony, Private

Tagged with ,

That’s Silly!

with 2 comments

Kalangan intelektual Arab, misionaris, feminis Eropa yang berniat baik, serta pejabat pemerintah Inggris, kendati banyak berselisih pandang dalam masyarakatnya sendiri, sepakat dalam pandangan mereka mengenai apa yang dibutuhkan para Muslimah: dibebaskan dari cara hidup yang terbelakang menuju cara hidup yang maju ala Eropa. Membuang jilbab adalah langkah pertama yang penting (Esposito dan Mogahed, 2007, hal.142).

Apakah perasaan Anda sama dengan saya saat membaca tulisan itu? Saya bahkan langsung menarik highlighter (bahasa keren dari Stabilo) dan menulis besar-besar di samping paragraph tersebut: SILLY!

Hal ini sangat menyedihkan bagi saya. Orang yang bahkan tidak tahu apa-apa mau bertindak sok tahu dan sok jadi pahlawan dengan cara membebaskan Muslimah dari hal yang sebenarnya mereka bangga memakainya??! Tidak ada yang merasa butuh dibebaskan, tidak ada! Setidaknya saya tidak pernah merasa seperti itu dan sepengetahuan saya, teman Muslimah saya yang lain pun tidak ada yang merasa seperti itu! (Mohon koreksi jika saya salah, jika saya melakukan overgeneralization yang berlebihan)

Mengubah perempuan adalah perlu, kata Amin “Bapak Feminisme Arab” dalam bukunya The Liberation of Women yang terbit tahun 1899, agar masyarakat Muslim membuang cara hidup yang terbelakang dan mengikuti jejak Barat menuju keberhasilan dan peradaban. Jilbab adalah ciri kentara dari keterbelakangan.

Saya semakin geleng-geleng kepala. Tidak tahu harus berkomentar apa lagi. Disini jelas bahwa ada pihak-pihak, bahkan dari kalangan dunia muslim sendiri, yang sudah dipenuhi kebencian dan ingin dengan sepenuh jiwa dan raga mengubah tatanan masyarakat dan kedudukan sosial wanita dalam masyarakat muslim. Alih-alih mengganti sistem sosial dan norma dengan sesuatu yang lebih tinggi nilainya dari nilai Islam (jika memang ada), dia malah ingin membuat sistem nilai yang sama dengan sistem nilai masyarakat Barat. Sakit hati saya! Merendahkan sekali dia! Siapa yang mau dibawa pada status kultural yang begitu rendah? Bukankah di Barat perempuan hanyalah objek pemuas hasrat laki-laki? Bukankah di Barat daya tarik seksualitas adalah sesuatu yang sangat diagung-agungkan? Apakah kebebasan yang dimaksud adalah bebas berpakaian  minim di jalan-jalan kota? Saya tidak merasa perlu melakukan hal itu untuk bisa merasa bebas dan berharga!

Saya sepakat dengan responden wanita dari Malaysia yang diwawancarai dalam survey yang dilakukan Gallup. Dia mengatakan bahwa dia mrasa kasihan terhadap perempuan-perempuan Barat karena mereka tidak menyayangi diri mereka sendiri dan merasa harus memuaskan hasrat seksual laki-laki (dengan berpakaian merangsang). Jejak pendapat lain di Timur Tengah dan Asia juga memperlihatkan bahwa mayoritas muslim di Mesir, Yordania, dan Pakistan tidak percaya bahwa dalam masyarakat Barat perempuan dihargai (Pew Global Attitudes Project, 2006). Data tersebut tidak mendukung persepsi yang terus saja banyak dipegang di Barat bahwa perempuan Muslim sudah tak sabar lagi ingin dibebaskan dari budaya mereka dan mengadopsi gaya hidup Barat (Esposito dan Mogahed, 2007, hal.144).

Aneh sekali persepsi mereka…ckckck.

Sebenarnya, anggapan bahwa status perempuan inferior dalam Islam terus dipakai sebagai pembenaran campur tangan Barat secara kultural dan kadang-kadang politik (ibid.,hal.140).

Jadi jelas bahwa itu adalah hal yang memang sengaja di blow up oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk terus melakukan intervensi kepada dunia muslim.

**

Rasanya ganjil sekali membicarakan hal ini di tempat dimana saya biasa bercerita gak karuan tentang segala hal ajaib (dan tidak terlalu serius) yang mengelilingi hidup saya. Entah kenapa saya merasa perlu berbagi tentang hal ini, setidaknya supaya saya yakin bahwa saya telah memberitahu beberapa orang bahwa banyak hal aneh di dunia ini yang kadang tidak mampu kita jangkau dengan nalar, hal aneh itu bisa saja menguntungkan tapi celakanya lebih sering merugikan. Kita tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa karena kita adalah bagian dari masyarakat dunia. Dan kita hidup di negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.

Pesan saya, untuk menutup tulisan ini: “Islam itu sederhana dan meninggikan kedudukan perempuan” (Souad Saleh, professor of Al-Ahzar University, Cairo)

 

 

Source:

Esposito, John L & Dalia Mogahed. 2007. Who Speaks for Islam?. New York: Gallup. Inc.

Written by erni

December 13, 2010 at 09:32 p12

Posted in Felony

Tagged with , ,

Situ Oke?

leave a comment »

Nasihat seorang bapak kepada anak lelakinnya: “Kalau cari istri tuh ya, kalau cantik harus dikasih makan, kalau gak cantik juga harus dikasih makan. Jadi ya mending cari yang  cantik aja, “

Itu adalah kutipan dari ucapan ayah pasangan teman saya (nah lo, jangan bingung ya).

“Am I that bad?” itu adalah pertanyaan yang muncul di kepala setiap wanita yang mendengar ayah pasangannya menasihatkan hal itu kepada anak lelakinya. Meskipun konteksnya bercanda. Meskipun si ayah tidak berbicara di depan sang wanita. Meskipun si wanita hanya tahu pernyataan itu lewat mulut anaknya. Saya sadar betul, efek psikologisnya sangat dalam dan panjang. Wanita memang cenderung lebih sensitive menanggapi segala hal tentang dirinya. Apalagi jika judgement statement itu diberikan oleh orang yang memiliki pengaruh dalam hatinya, ungkapan sesederhana apapun akan terasa kompleks jika diolah oleh otak wanita. Jadi wajar saja teman saya merasa buruk setelah mendengar bahwa ayah pasangannya itu bicara seperti itu pada anaknya setelah dia pulang dari rumah pasangannya yang katanya saat dia berkunjung dia memang baru pulang dari pasar sehingga mungkin penampilannya kurang berkesan (bingung baca kalimat sendiri…kenapa kata ganti laki-laki dan perempuan dalam bahasa indonesi tidak jelas begini? Kalimat saya jadi sulit dicerna!).

“You are not that bad. Trust me. I don’t like to say this, but I think you’re nice, “ kata saya menghiburnya.

“Jadi gue gak seburuk itu kan? Meskipun emang gak cantik banget, tapi kok ya…” katanya dengan suara makin menghilang.

“Iya, meskipun gak secantik Cut Tari, tapi lo cantik kok. Beneran!” kata saya akhirnya. Dia tersenyum senang karena akhirnya saya memujinya! Hadeh, gak lagi-lagi deh bikin dia ge-er.

**

Nyatanya ada saja orang yang menjadikan penampilan fisik sebagai pertimbangan utama untuk mencari pasangan. Seperti si bapak tadi. Istrinya memang cantik luar biasa. Tapi apa itu berarti menantunya juga harus secantik istrinya? Toh yang akan menikah dengan si wanita kan anaknya bukan si bapak itu! Saya jadi ikut esmosi mendengar cerita teman saya. Bukan karena teman saya tidak cantik, bukan karena saya juga tidak cantik! Kami cantik! (ngaku-ngaku, udah percaya ajalah)

Ini adalah masalah kedewasaan. Menurut saya si bapak ini belum benar-benar dewasa jika dia mensyaratkan seorang menantu yang seperti itu. Memang sih, itu penilaian subjektif saya. Tapi menurut saya si bapak ini seharusnya melihat lebih jauh, mengenal lebih dalam dan bukannya hanya menilai dari luarnya saja. Toh cantik itu relative, menurut saya teman saya itu cantik. Mungkin bukan cantik seperti yang disukai si bapak ini, tapi ini masalah selera, bung! Saya curiga jangan-jangan si bapak yang katanya orang berpendidikan ini tidak pernah mendengar istilah ‘Don’t judge a book by its cover’. Sungguh kasihan.

Saya tidak menyalahkan orang yang menjadikan pertimbangan fisik sebagai prasyarat utama. Islam adalah agama yang menghargai fitrah manusia. Buktinya hadis dari Abu Hurairah berikut ini:

Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”

Yah buat wanita, hadisnya masih berlaku kok. Tinggal diganti aja subjeknya jadi “Laki-laki itu…”

Teman saya yang lain pernah secara serampangan bilang bahwa itu adalah urutan baku dari Rasulullah: paras-harta-keturunan-agama. Dia lupa bahwa hadis itu terdiri dari dua kalimat, dia hanya baca kalimat pertama. Lagipula hadis itu mengungkap kebiasaan, bukan aturan baku. Kalimat kedualah intisarinya.

Yah, sekali lagi, itu adalah hak pribadi tiap orang untuk menentukan seperti apa orang yang ingin dinikahinya. Teman saya yang lain lagi bilang, “Buatlah kriteria untuk menghindari menolak orang yang gak sesuai kriteria”, sungguh nasihat yang bijak. Tapi ya kalau memang dia (entah siapa) hanya bisa hidup dengan orang yang cantik/tampan (terlepas dari seperti apa agama dan sikapnya) yah silahkan saja. Itu hak setiap orang.

Tapi kalau ada tuntunan (hadis diatas), kenapa gak dipake? ^^v

Written by erni

July 23, 2010 at 09:32 p07

Posted in Felony, Friends

Tagged with , ,

SPG Berbaju Peri

with 6 comments

SPG merupakan kepanjangan dari Sales Promotion Girl. Seorang gadis (berarti kalau ibu-ibu gak boleh dong ya? *nyeleneh) yang bertugas mempromosikan barang yang sedang dijual. Tugas utamanya adalah merepresentasikan dan mempresentasikan produk yang dia handle. Jadi secara sederhana tugas SPG adalah membuat (calon) konsumen merasa yakin bahwa produk perusahaannya baik dan patut dibeli dengan cara memberi image yang baik kepada (calon) konsumen dan memberi penjelasan yang dibutuhkan oleh (calon) konsumen. Semisal SPG shampoo maka dia harus punya rambut yang bagus+panjang dan dia bisa menjelaskan keunggulan shampoonya. Meskipun belum tentu juga dia pakai shampoo yang promosikan…hehe. Contoh lain, SPG pakaian muslimah maka dia harus tampil rapi dan menawan dengan pakaian muslim yang dia promosikan. Kalau dia pakai pakaian olahraga itu namanya gak nyambung dan saltum (salah kostum – red) kan?

Ada satu hal yang aneh. Sepertinya masyarakat kita (eh, saya ikut gak ya?) cenderung sepakat bahwa semua SPG harus cantik. Well, nothing wrong with this…memang fitrah manusia untuk menyukai hal-hal yang indah. Masalahnya adalah ketika kecantikan itu disejajarkan dengan keseksian, sementara seksi itu diyakini hanya bisa didapatkan dengan pakaian minim, maka hasilnya adalah sebuah konvensi bahwa yang tidak minim tidak seksi, yang tidak seksi tidak cantik, dan yang tidak cantik tidak menarik. Daaan, karena SPG harus menarik, maka sepertinya semua orang sepakat bahwa SPG harus berpakaian minim! *mengelus perut, saya sedang kena diare!

Di JCC kemarin (Pameran Komputer & Handphone), semua SPG berpakaian minim. Lucu, karena apapun bajunya, rok mini bawahannya! *gaya iklan teh botol. Yang paling aneh, ada sebuah merek handphone yang memajang SPGnya yang bak model majalah itu dengan BAJU PERI! Ya, saya menyebutnya baju peri karena mereka mengingatkan saya pada peri-peri hutan di film PeterPan. Sungguh terlalu, baju mereka topless dan sangaatt minim, warnanya hijau.

Peri PeterPan

Teman saya sampai tidak mau mendekati mereka. Keterlaluan katanya. Padahal dia butuh bertanya tentang harga handphone yang sedang dia cari.

“Gak mau tanya harga handphone-nya? Mungkin aja disini lebih bersaing harganya,” kata saya.

“Gak usah deh,” katanya cepat, menarik saya pergi dari tempat itu.

Rasa penasaran saya tidak bisa dibiarkan begitu saja.

“Yaudah tunggu sini deh, biar aku tanya harganya sama mbak-mbak berbaju peri itu,” saya pergi ke si SPG. Dan setelah beberapa saat…

“Kata mbak-mbak berbaju peri yang disana tipe A harganya 999rb kalau tipe B gak beda sama merek yang di depan,” jelas saya singkat. Teman saya menggeleng, saya tahu dia tidak suka SPG berbaju peri!

Diluar dia bilang ke saya, “Belum pernah aku liat yang seperti itu. Kok pakaiannya begitu sih? Kan kalau begitu gak semua orang mau dan nyaman bertanya…”

Saya setuju, orang yang mau menjaga diri pasti akan sangat menghindari tipe-tipe orang yang berpakaian tidak pas begitu. Harusnya ini jadi pertimbangan produsen, tidak semua orang nyaman dengan wanita yang hampir telanjang!

Tapi sebenernya apa ya yang mau direpresentasikan SPG itu dengan gaya mereka? Berpakaian seminim peri dalam film PeterPan untuk promosi handphone? Saya sungguh tidak bisa menemukan korelasi antara pakaian minim ala peri dengan handphone!

Written by erni

July 19, 2010 at 09:32 p07

Posted in Deviant, Felony, Journey

Tagged with ,

Ekonomis tapi Tragis

with 2 comments

Saya belum pernah naik kereta. Sebuah pengakuan memalukan yang nyata. Terdengar aneh memang, tapi itu benar. Saya baru dua kali naik kereta. Pertama, ke Kota dengan KRL dan kedua, ke Bogor, juga dengan KRL. Bagi saya KRL itu bukan kereta. Alasannya adalah karena ia pendek! Saya mau naik kereta yang panjang!!

Berbekal kenekatan dan keingintahuan yang tak terbendung. Saya memutuskan naik kereta ke Jakarta (dari Solo) beberapa waktu lalu.

Kata novel yang pernah saya baca, naik kereta ekonomi itu seru. Kata teman saya, naik kereta ekonomi itu merakyat. Kata sepupu saya, naik kereta ekonomi itu biasa aja. Sementara kata ayah saya dan teman dekat saya, naik kereta ekonomi itu bahaya. Ada lagi yang bilang, kereta ekonomi itu ‘sebaiknya’ tidak dinaiki.

Saya abstain. Membiarkan takdir memilihkan kereta untuk saya. Sisa uang saya 159rb. Kalau saya naik kereta bisnis pun masih cukup untuk sekedar sampai rumah (dengan asumsi saya tidak beli apa-apa selama diperjalanan). Kalaupun harus naik kereta ekonomi, saya tidak keberatan karena saya mau merasakan pengalaman yang berbeda.

Akhirnya saya sampai di stasiun. Stasiun Ceper, Klaten. Ini stasiun kecil. Sekecil stasiun KRL di Kalibata (agak gedean dikit sih!). Dan ternyata tidak ada kereta bisnis (apalagi eksekutif) yang berhenti disini. It means, saya naik kereta ekonomi!

Kereta Bengawan. Itu namanya. Saya senang karena kereta ini benar-benar panjang! Saya tidak bisa melihat ujung-ujungnya ketika ia berhenti di depan saya. Saya merasa seperti anak kecil yang baru diajak ayahnya naik kereta. Berdebar-debar [lebai banget deh, tapi beneran!].

Sayangnya, kereta ini membuat saya berjanji untuk tidak naik kereta ekonomi lagi jika tidak terpaksa. Ya, ekonomis memang tapi sangat tragis…bahkan saya tidak sanggup menceritakannya sekarang. Maybe next time…

Written by erni

July 9, 2010 at 09:32 p07

Posted in Felony, Journey

Tagged with , , ,

Hanya Tuhan dan Dosen yang Bisa

with 2 comments

“Saya juga ada mata kuliah yang dapet D padahal nilai ujian saya 96. Saya gak ngulang mata kuliah itu.” kepala jurusan saya bercerita.

Saya tersenyum, kaget dan senang. Kaget karena tidak percaya orang sekaliber beliau bisa dapet D dan senang karena artinya punya nilai D di transkrip itu keren! (buktinya dosen saya yang juga kepala jurusan ini juga punya nilai D di transkripnya! haha..), “Kok bisa bgitu pak? 96 dapat D? Bapak gak protes?” tanya saya polos. Bagi saya ketidakadian itu wajib diprotes!

“Protes? Sudah. Bahkan sampai sekarang pun saya masih protes sama beliau, tapi beliau ya cuma senyum-senyum aja.” selorohnya santai.

Saya tidak puas, “Kasus di kelas saya juga sama pak. Apa benar-benar tidak bisa diusahakan ya pak? Nilai kami aneh-aneh…”

Beliau menggeleng, “Kalian belum seberapa, kemarin Ma*** [nama disensor demi menjaga privacy] nangis-nangis ke saya minta dibantu karena diberi nilai E oleh salah satu dosen padahal minggu depan dia harus sidang skripsi. Dia gak mungkin ikut sidang kalau ada mata kuliah yang tidak lulus.”

Saya terhenyak, speechless.

“Saya gak bisa berbuat apa-apa. Bahkan rektor pun gak bisa berbuat apa-apa dalam masalah seperti ini.” tambahnya dengan nada kesal dan menyesal.

“Apa benar-benar gak ada yang bisa dilakukan ya pak? Kan kasihan kalau kasusnya begini…”

“Hanya dosen yang bersangkutan dan Tuhan yang bisa mengintervensi masalah ini.” katanya mantap.

Saya terdiam sejenak, “Se-eksklusiv itu pak?”

“Iya. Masalah nilai itu urusan dosen dan Tuhan.”

Saya berusaha mencerna kalimatnya. Benar juga, selama ini meskipun sistem penilaian setiap mata kuliah sudah dibeberkan panjang-lebar-tinggi di awal perkuliahan, tapi pada kenyataannya itu (kerapkali) hanya menjadi sekedar wacana. Pada akhirnya nilai akan keluar dengan perhitungan ajaib yang tidak bisa dirasionalisasikan sama sekali oleh siapapun. Saya baru sadar sekarang, setelah kelas kami mendapat cobaan berat dengan salah satu dosen ajaib yang namanya-tidak-perlu-disebut yang dengan sangat mudah memberi kami nilai yang tidak pantas. Saya tahu sejauh mana usaha saya dan kemampuan teman-teman saya, jadi saya tahu nilai apa yang pantas untuk kami. Tapi, sekali lagi…masalah ini adalah urusan dosen dan Tuhan, bukan mahasiswa. Kejam sekali.

“Kenapa mereka begitu ya pak?” tanya saya penasaran akan pandangan beliau terhadap pendidik-pendidik macam itu.

“Karena mereka punya otoritas. Jika mereka mau, mereka bisa melakukan apa saja.”

“Kenapa sih pak ada dosen yang seperti itu?” tanya saya penuh sesal.

“Loh, itu artinya kamu mempertanyakan eksistensi Tuhan.”

Saya kebingungan, “Apa hubungannya eksistensi Tuhan dengan nilai dan dosen pak?”

“Jelas ada hubungannya. Nilai itu urusan dosen dan Tuhan, mempertanyakan hal itu sama saja dengan mempertanyakan Tuhan. Lagipula kita selalu butuh keburukan untuk tahu mana yang baik. Kita selalu butuh iblis supaya orang baik punya pekerjaan, melawan iblis. Begitu bukan? Believe it or not, kita memang butuh kejahatan…”

“Mmm…ya. dan saya pikir mereka jahat…”

“Hahaha…” beliau tertawa, kemudian kembali ke ruang rapat. Meninggalkan saya sendiri di mejanya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ya, karena pada akhirnya saya tahu, hanya Tuhan dan dosen yang bisa. Nothing more I can do…

Written by erni

July 9, 2010 at 09:32 p07

Posted in Felony

Tagged with ,

Tell Me How

with 6 comments

Bagaimana cara menghargai dosen yang bahkan tidak mampu sedikitpun menghargai usaha keras mahasiswanya?

Bagaimana cara membentuk generasi muda yang kuat dengan pendidik yang tidak mau peduli pada anak didiknya?

Bagaimana cara berbicara kepada orang yang tidak mau  mendengar?

Bagaimana cara menghargai proses jika semua orang hanya mau melihat hasilnya?

Bagaimana cara menghormati orang terdidik yang sikapnya sangat tidak berpendidikan?

Bagaimana cara mendidik orang untuk mampu menghargai?

Bagaimana cara berbesar hati jika itu memang sebuah kelalaian yang mendzalimi?

Bagaimana?

Bagaimana?!

Bagaimana?!!

[Astgfrullah...]

Bahkan langitpun melegitimasi kesedihannya. Menumpahkan air tanpa henti dengan petir yang suaranya menusuk hati. Dalam. Sampai ke ulu hati. Dan basahpun tidak terasa lagi, dingin tak terpungkiri…karena sepertinya dia telah mati rasa.

Written by erni

June 29, 2010 at 09:32 p06

Posted in Felony

Tagged with

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 115 other followers