Archive for the ‘Deviant’ Category
If only I…
If you have a choice between me and her, choose her because if you really loved me there wouldn’t be a choice.
Have just found the words in tumblr. Kind a amusing I think. A very strong message for every men out there. If I were the woman (Naudzubillah), I would say exactly the same words.
Anehnya, ada saja wanita (baik) yang terikat dengan seseorang yang tidak baik. Dan dengan alasan yang tidak masuk akal, dia tidak pernah bisa meninggalkannya. Mungkin itu hak perogratif setiap individu untuk menentukan dengan siapa dia akan menghabiskan waktunya, tapi…buat saya itu menyedihkan. Bukankah orang yang baik sejak awal pun bisa berubah menjadi tidak baik? Bukankah yang tampak pada awalnya hanyalah kebaikan sampai kita benar-benar hidup bersama dengannya? Ah, terserah saja, kamu sudah dewasa. Ini hanya permohonan agar kamu bisa melihat dari perspektif yang berbeda, tapi pilihan terakhir tetap ada di tanganmu, kawan.
Good bye to you, my dearest one…
Why does it happen to you? You were always by my side. You’ve never hurt me, even when I treated you bad. You were always here for me. But now why? I know, I didn’t protect you well. I just wonder if you want to come back to live with me. I really want it. But now, you’re with a stranger who scared me a lot. I might be selfish, but I want to make you free. I hope I’ve chosen the right way. I don’t wanna make you sad. I promised, I would make you be back to me if I could.
Saya menemukan tulisan itu di meja belajar adik saya. Tulisan itu tulisan tangannya. Siapa yang tidak gundah melihat catatan seperti itu. Apa yang sebenarnya telah terjadi. Saya melanjutkan membaca…penasaran bercampur was-was.
My cell phone, my sony erricsson, my dear, my precious thing…. Would you come back to me?
Hahaha…. Betapa imutnya adik saya yang satu ini. Dia menulis surat untuk hand phone-nya yang hilang diambil copet. Ya Rabb, kemana saya harus mengirimkan surat ini???
BRANDED?
Saya sedang malas sekali membeli kebutuhan-kebutuhan hidup saya. Saya kehabisan sepatu, kehabisan pakaian, jilbab, kaos kaki, dan lain-lain (waktu memakan mereka semua >_<). Parahnya saya kehilangan gairah untuk berbelanja. Ya, berbelanja sendirian itu ternyata butuh kemauan ekstra untuk berangkat. Lain dengan belanja bersama teman, tidak ingin pergi-pun bisa jadi berangkat kalau sudah ada yang mengajak.
Saya juga sedang kepikiran beberapa hal terkait barang-barang yang ingin saya beli. Saya tidak pernah punya katalog di kepala saya yang memuat daftar barang-barang bermerek. Buat saya apapun mereknya, yang penting nyaman. Belakangan saya sadar, saya benar-benar tidak banyak tau merek-merek barang. Yah, siapa peduli juga? Kalau saya tidak kenal, artinya merek itu kurang keren! Hehe.
Anehnya, ada sebagian orang yang suka sekali memperhatikan merek. Seakan mereka menghargai orang dari merek yang dipakai. Saya kadang ngeri sendiri dengan tipe orang seperti ini karena rasanya mereka bisa menilai saya dari sepatu yang saya pakai atau dari tas yang saya pakai. Ini mengerikan. Seakan mereka akan membuat klasifikasi manusia berdasarkan apa yang dipakai orang tersebut dan saya tentunya akan masuk ke dalam klasifikasi kelas bawah karena saya tidak kenal barang bermerek dan lebih parah, saya tidak terlalu suka memakai barang bermerek.
Ya, saya merasa risih dengan benda-benda bermerek yang terlalu mahal. Rasanya bersalah sekali saya jika harus memakai benda-benda seperti itu. Kenapa?
- Ada benda lain yang lebih murah dengan fungsi yang sama dan model yang tidak buruk
- Sisa uangnya bisa digunakan untuk membeli keperluan yang lain atau kalau gak ada kebutuhan lain yang penting, bisa diamalkan
- Saya tidak suka dinilai dari apa yang saya pakai atau apa yang saya miliki, saya lebih suka dinilai dari apa yang saya kerjakan dan manfaat apa yang mampu saya berikan
Mungkin ini terdengar seperti pembelaan diri, tapi saya tidak mengerti kenapa merek jadi begitu penting bagi sebagian orang. Apa karena merek itu memberikan prestise dan mewakili status sosial? Ah, mulianya pemilik i-pad!
Sekali lagi harus saya katakan, hidup itu penuh dengan kegiatan memilih. Memilih merek juga termasuk. Tidak perlu saling menyalahkan atau membela diri, kita semua punya alasan masing-masing untuk mendukung pilihan kita. Yang jelas, jangan sampai berlebihan dalam berlaku karena semua akan dipertanggung jawabkan nantinya. Gak lucu juga kan kalau nanti di yaumul akhir ketika ditanya oleh malaikat “Kamu gunakan untuk apa hartamu di dunia?”. Lalu dijawab dengan “Saya gunakan harta saya untuk memberli tas Hermes, sepatu Fladeo ‘n Stuart Weitzman, dan parfum Caron’s Poivre!”
Nah. Itu berlebihan. Hehe.
“Jika saya adalah apa yang saya miliki. Maka siapakah saya ketika saya tidak memiliki apa-apa lagi?” [Oprah]
A Resume
This is not a typical night, at least that what I think.
This is one silent night in the mid-February, a phase where I stop running to take a little more oxygen to fill my lungs.
At this point, I realize….
I have lost my last grandma this month, just some days ago, and it really makes me feel like I’ve lost my fixed-holiday destination forever.
I came to her funeral, and seeing her face for the last time. Sooner or later, I will go to her place. We all will…
I saw her empty house for the last time. Silence is the one who will fill the place. Silence.
Along my way back, I kept my eyes wide open, trying hard to absorb the whole things before I really leave them behind.
***
I missed the New Year’s Eve, I had more important thing to do than just blowing the trumpet or seeing fireworks exploding above my head: my thesis.
Lately, I choose sleeping better than staying up celebrating something useless.
I’ve finished my thesis, last month, and I’m still in the euforia of celebrating it. OMG!
I celebrated my other birthday this month, instead of making me feel older, I feel much younger! You may say I’m crazy, I don’t care.
I received twenty roses, the nicest gift ever! I love the way they bloom and fall their petals down. So romantic.
I read some novels, my pleasure activities, and I can’t understand why I don’t fall asleep when I read them as I usually do when I read non-fiction books. Hfhf.
I tried to write some things down, like what I’m doing now. It’s absolutely not easy, ya, especially when we are exceeding our limit in everything…
But, at least I tried.
Arrghhh…
Kemarin saya melakukan hal yang sangat tidak keren!
Saat itu jam 14.45 WIB.
Setting lokasi: masjid SMA.
Setting waktu: beberapa saat setelah bel pulang berbunyi.
Saya ada janji jam 15.00 dengan beberapa adik kelas saya. Sebelum mereka datang, saya harap saya sudah selesai shalat ashar. Akhirnya saya pun mengambil air wudhu. Saat saya kembali, beberapa anak sudah shalat. Tumben, biasanya ada shalat jamaah. Pikir saya heran. Sayup-sayup saya mendengar adzan. Tanpa pikir panjang saya pun langsung shalat.
Kejanggalan terjadi saat si muadzin yang tidak lain dan tidak bukan adalah anak laki-laki entah kelas berapa yang ternyata sedang berdua dengan temannya itu mengulang adzannya sampai beberapa kali. Saya tertegun sendiri. Saya akhiri shalat ashar saya dengan was-was. Mereka sedang latihan adzan! Pantas tidak pakai TOA!
Oke. Masalahnya sekarang: apakah shalat (yang saya niatkan) ashar tadi sudah pada waktu yang benar??
Saya terdiam lama. Kalau kata adik2 kelas saya, GALAU.
Allah Maha Baik, sekitar 7 menit kemudian adzan berbunyi! Ya Rabb!
Dengan muadzin si anak yang tadi latihan berulang2 dan membuat saya shalat ashar duluan!
Ingin rasanya menghampiri si anak dan teriak: dek, klo latian adzan jangan mendekati waktu shalat ya!
Grrrr….
Setelah suara iqamat, saya berdiri kembali. Bergabung bersama jamaah shalat ashar yang lain. Saya pasti terlihat seperti orang yang mengerjakan shalat dzuhur 5 menit sebelum adzan ashar! Padahal kenyataannya saya shalat ashar 5 menit sebelum adzan ashar! Sungguh tidak keren!
NOT THINK
Ini adalah satu dari sekian kisah unik di tempat PPL. Cerita di dunia SMP.
Waktu itu saya meminta evaluasi dari anak-anak di kelas. Awalnya mereka bingung. Belum pernah ada guru yang meminta dievaluasi oleh siswa, mungkin itu yang mereka pikir. Yah, bagi saya hal itu wajib. Bagaimana saya bisa tau apa yang mereka pikirkan jika saya tidak pernah bertanya?
Oke, karena kegiatan ini tidak memiliki alokasi waktu khusus, maka saya hanya mengambil waktu sisa di akhir jam pelajaran. Sepuluh menit. Saya harap itu cukup.
Mereka semangat sekali menjawab lima pertanyaan yang saya ajukan. Saya meminta mereka untuk tidak menuliskan nama, tapi ada saja yang diam2 bilang ke saya, “Miss, punya saya ada tanda tangannya loh. Nanti miss cari aja yang tanda tangannya paling keren!”
Saya tersenyum. Sepertinya dia ingin sekali saya membaca tulisannya dan mengetahui bahwa tanda tangannya lebih keren dari semua tanda tangan teman-temannya.
Sesampainya di kosan, saya membuka semua lembaran yang tadi saya kumpulkan. Jawaban mereka unik-unik. Yang paling membuat saya merasa aneh adalah jawaban atas pertanyaan nomer 2.
“Apa yang tidak disukai dari cara mengajar Miss.Erni?”
NOT THINK!!!
Saya kaget. WHAT???
Saya bertahan membaca beberapa lembar lagi. Jawaban serupa muncul beberapa kali.
NOT THINK ^^
Ada yang menulis besar-besar. Ada yang menulis miring, dan yang lain lagi dibubuhi smiley. Mereka pasti kawanan yang duduk berdekatan sehinggga jawabannya serupa.
Masalahnya adalah kenapa mereka menulis seperti itu?
Apa iya saya tidak berpikir saat mengajar (not think)?
Apa iya cara mengajar saya seperti orang yang tidak bisa berpikir?
Pusing saya jadinya.
Kertas selanjutnya memberi saya jawaban.
Tidak ada (NOTHING)!
Well done! Jadi itu maksudnya, nothing!!!
OMG, mereka benar2 mm…*berusaha mencari kata yang tepat*…cerdas!
Saya tertawa2 membaca itu, sepertinya bukan saya yang ‘not think’ tapi mereka….hehe
Pesan saya untuk mereka, jangan asal tulis!
Tapi saya benar-benar menghargai tulisan mereka, buktinya mereka tidak pernah tau kalau saya sempat kaget membaca hasil evaluasi itu, especially that ‘not think’ part
datasemen anti-terong
(bahkan judul postingan kami [saya dan si pelaku dalam cerita ini] sama! wah, hebat! isi ceritanya juga mirip deh kayaknya)
Pembicaraan tentang terong itu tidak singkat. Maka sepertinya harus ada dua episode yang ditulis disini. Kami masih saja tidak mengerti dimana letak nikmatnya terong…
Sampai-sampai teman saya ini frustasi sendiri, dia takut jika ada tes ketahanan diri dimana dia diminta bertahan hidup seadanya (sementara yang ada cuma terong) maka dia pasti akan gagal dalam tes itu. Saya masih ingat kutipan SMS-nya:
“Program Indonesia Mengajar akan mengkondisikan kita seperti di daerah terpencil yang kita masuki. Dan ketangguhan kita menghadapi medan pastinya akan diukur. Kamu merasa adil gak kalau pengukuran ketangguhan menghadapi medan diukur dari bisa makan terong atau gak? Dunia ini memang gak adil kalau cuma terong instrument pengukurnya.”
Saya tertawa lagi. Ini agak berlebihan. Saya pikir kami bisa lulus kok! Toh yang dinilai bukan hanya satu hal! Kecuali kalo lomba makan terong, maka saya bisa yakin dengan sepenuh jiwa raga bahwa kami memang akan kalah!
Pertanyaan terakhir yang gak kalah mengkhawatirkan,
“Kalau nanti suami kamu suka terong gimana ern?”
Saya terdiam dulu. “Gak masalah ta, aku bisa kok masak terong!” jawab saya yakin.
“Tapi kan kamu gak suka makan terong?”
“Iya, nanti aku makan bumbunya ajah, dia terongnya….hehe ^^”
Terong is Pajangan!
“Kalau di dunia ini makanan yang tersisa tinggal terong dan jengkol, aku pilih mati aja deh, ern!” ujar teman saya siang itu.
Saya tertawa. Tidak habis pikir kenapa dia bisa berucap seperti itu. Mungkin karena dia sangat tidak suka terong dan jengkol. Untuk jengkol saya tidak protes, toh itu makanan yang memang makruh (boleh dimakan tapi tidak dianjurkan…hehe…iyalah, lha wong aromanya dahsyat bgitu masa’ dianjurkan?!). Tapi untuk terong,,,kata orang terong itu enak!
“Hampa banget sih hidup kamu gak pernah ngerasain enaknya terong!” teman saya yang lain (baca: yang suka terong) pernah protes begitu ke saya saat dia tahu saya tidak suka terong.
Sekarang saya menemukan sekutu: orang yang tidak suka terong! Senang sekali rasanya! Saya tidak pernah tahu di dunia ini ada orang lain yang tidak suka terong selain saya (lebai mode on).
“Kenapa gak suka terong ta?” tanya saya, menginterogasi.
“Gak suka aja. Lembek gitu. Gak kebayang rasanya gimana!”
Saya agak kaget. “Jadi kamu belum pernah makan terong betulan ta? Aku emang gak suka tapi at least aku pernah makan terong!” (nada agak bangga…walaupun gak paham dimana letak kebanggaan pernah makan terong!)
“Rasanya gimana ern?”
“Well, mmm…dipermukaannya sih enak…bumbu baladonya itu loh, aku suka! Tapi pas dimakan… yucks… lembek dan hambarrr!” saya agak merinding membayangkan sensasi lembeknya, membayangkan terong yang agak lumer berair di atas piring…ahhh…
“O…jadi rasanya hambar ya? Aneh, kenapa orang suka terong ya?” katanya bingung.
“Orang juga berpikir kita aneh karena kita gak suka terong tau ta! Kata mereka terong itu enaaak!” saya agak kesal karena begitu banyak orang yang tidak mengerti perasaan kami.
Diam sejenak.
“Sebenarnya terong tuh bagus tau ta bentuknya sebelum dimasak. Warnanya aja ungu. Cantik.” Kata saya agak menyesal kenapa terong bisa lembek begitu setelah matang…kontras sekali dengan saat sebelum dimasak. Jika sebelum dimasak saya berani memberi adjective yang berbunyi “Awesome” untuk si terong, maka setelah dimasak adjective-nya akan berubah menjadi “Horrible”.
“Iya. Makanya, MENURUTKU TERONG ITU PAJANGAN BUKAN MAKANAN!!” teman saya berkata penuh kemenangan.
“Hehehe…iya, mungkin memang begitu. Seharusnya terong itu jadi pajangan aja!”
Akhirnya saya dan dia tertawa-tawa, menurut kami kesimpulan anehnya adalah: orang yang suka terong berpotensi memakan pajangan lain yang ada di rumah! So beware of them! ^^v
Dasar Bocah!
Tadi siang dua anak kecil bertandang ke rumah saya. Sebut saja Adi dan Viki (saya lupa nama mereka!). Saya sedang dikamar, mendengarkan percakapan anak-anak itu dengan ibu saya.
Ibu : Adi udah kalah berapa puasanya?
Adi : Kalah Sembilan.
Ibu : Sembilan? Kok banyak? Kamu emangnya ngapain?
Adi : Aku sakit makanya jadi kalah banyak (nada menyesal)
Ibu : Oh, sakit. Sekarang puasa gak?
Adi : Puasa dong!
Ibu : Kalo Viki udah kalah berapa?
Viki : Aku kalah sebulan! (nada gembira)
Ibu : Sebulan??
Ibu : Haha…kamu kenapa gak puasa?
Viki : Masih kecil.
Adi : Iya, dia mah emang gak puasa! Males dasar!
Viki : Biarin aja. Weee!
Saya tertawa sendiri jadinya. Kalah puasa sebulan dan diumumkan dengan bangga. Kalau bukan anak kecil mana ada yang berani jujur begitu? Hehe…
Israfil dan Vuvuzela
Kemarin malam saya itikaf di masjid At-tin. Tidak seperti malam ganjil di tahun-tahun sebelumnya, tahun ini suasananya lumayan sepi. Aneh juga, dulu saya sulit sekali dapat lapak (baca: tempat duduk) enak walaupun sudah datang sebelum maghrib, tetapi kemarin saya dengan mudahnya dapat lapak yang lumayan padahal saya datang ba’da isya. Aneh. Sungguh aneh. Apapun alasannya, saya wajib bersyukur atas kemudahan itu ^^ (Alhamdulillah)
Seperti biasanya juga, itikaf itu selalu menjadi ajang begadang yang paling berkualitas. Mulai dari tilawah, shalat jamaah, qiyamul lail, dengerin ceramah, ketemu teman-teman lama, curhat sampai tidur dan sahur bareng orang yang gak dikenal sudah menjadi agenda rutin saat itikaf.
Kemarin, seperti biasanya. Setelah lelah dengan tilawah dan ceramah, saya duduk diam disamping dua sahabat saya. Mereka sedang meributkan kerjaan malaikat.
“Kira-kira sekarang malaikat israfil lagi ngapain yak?” tanya sahabat-1 saya.
“Lagi nunggu kiamat lah,” kata sahabat-2.
“Apa dia gak bosen ya diem2 aja sampe hari kiamat? Mungkin seharusnya dia bantuin kerjaan malaikat lain biar gak bosen dan mati gaya nunggu kiamat. Kasian kan, kalo malaikat tuh digaji dia pasti gajinya paling kecil karena kerjaannya paling sedikit,”
“Iya ya, sekarang dia ngapain ya?” sahabat-2 mulai terpancing, “Mungkin dia lagi nyetem sangkakala sekarang”
Sepertinya dia berpikir sangkala itu seperti gitar….
“Gawat banget kalo dia penasaran sama bunyi sangkakala, trus ditiup, trus tau-tau kiamat…” saya menimpali, gak lebih waras dari mereka.
“Iya gawat. Jangan sampe dia penasaran sama bunyi sangkakala deh. Tapi aku selalu ngebayangin bunyi sangkakala tuh kayak terompet gede yang dari kerang itu loh, tau kan?” sahabat-1 mempraktekkan cara meniupnya, “Mirip vuvuzela bunyinya” tambahnya mantap, obsesi piala dunia masih ada rupanya.
“Aku ngebayanginnya kayak terompet,” tambah saya, tiba-tiba membayangkan terompet tahun baru yang cempreng gak karuan…”Terompet besar yang bunyinya bagus,” saya tidak mau mereka membayangkan malaikat meniup terompet tahun baru!
“Semoga malaikat israfil gak sedih ya,” kata saya serius, “Karena pada saat pertama kali dia meniupkan sangkakala semuanya jadi binasa. Bisa dibayangin gak sih, melakukan tugas untuk pertama kalinya dan tiba-tiba semuanya hancur di depan mata…pasti dia mikir ‘jangan-jangan ini gara2 gue’…”
“hahaha…” sahabat-1&2 ngakak.
Beberapa menit kemudian…
“Udah-udah, kok jadi ngomongin malaikat sih?” tegur sahabat-2 setelah dia selesai tertawa2.
“Lah, kan kalo ngomongin orang dosa jadi mending ngomongin malaikat aja…iya gak ern?,” sahabat-1 saya ngaco.
Kami terdiam…agak merasa bersalah sama objek-objek yang kami gunjingkan barusan…
“Intinya malaikat kan gak kayak manusia yang punya emosi dan ketidakpatuhan. Jadi gak akan ada cerita dia penasaran sama sangkakala terus ditiup sebelum waktunya. Gak akan ada cerita dia bosen dan mati gaya nunggu datangnya tugasnya…hihi…emangnya kita, banyak maunya, banyak pengen taunya, banyak anehnya,”
“Astagfirullah, semoga israfil gak marah karena udah diomongin. Gawat kalo dia marah trus dia jadi niup sangkakala karena kesel sama kita,”
Sebuah statement penutup yang membuat kami kembali ke titik nol…
Kan sudah dibilang, malaikat itu bersih dari segala emosi, sayang